Minggu, 15 Mei 2011

Serat Kilasan Sang Lingga Bawana


Desember,2008

Selimut halimun terasa tebal melingkupi. Udara dingin pegunungan membekap erat sendi-sendi. Temaram senja menyisakan semburat kekuningan cahaya matahari yang menembus selubung alam. Seolah bertahan dengan sisa-sisa kekuasaannya terhadap hari, cahaya itu perlahan terserap kekelaman malam yang mulai merambat. Sesosok bayang-bayang tipis berpakaian kasatrian melayang lembut menembus bekapan alam ke puncak pegunungan tersendiri. Lembut dan santun duduk menghadap sang pertapa yang khusuk memejam mata. Sinar lembut membalut wajah tetua, meneduhkan hati sang Ksatria yang sedang dirundung nestapa.

“Saya yang datang sowan Eyang, sembah bakti hamba ,”

Seulas senyum menghias wajah teduh, menyambut kedatangannya. Perlahan membuka mata menyiratkan kepedulian yang hangat.

“ Sudah berapa lama tidak ketemu, garis hidupmu semakin panjang, Ngger…”

“ Aku bingung Eyang…., kemanakah arah berikutnya ?”

“Setelah melewati Antitesa dari suatu Tesa, bukankah mestinya kamu bisa mensintesanya Ngger ?”

“ Masalah waktu dan optimalisasi potensi untuk tata kehidupan yang lain Eyang, apakah mesti hanya begini-begini saja bentuknya ?”

“ Kematangan Ngger…., dari setiap pohon yang tumbuh, berbeda-beda bentuk cabangnya, meskipun itu dari satu pohon yang sama. Dari setiap percabangan akan ada fotosintesanya sendiri-sendiri, dan akan menghasilkan buahnya sendiri-sendiri.Bukankah dahulu kamu bisa melihat, keringnya ranting-ranting dari salah satu cabang pohon itu karena panas dari energi antitesamu, sudah saatnya sinergi sintesamu kembali untuk menumbuhkan persemian pada cabang itu ?”

“Apa saya terlalu sombong untuk bertanya, Eyang ? Sehingga tertahan semua jalan dan aliran energi untuk membentuk cabang kehidupan baru.” Sekilas galau melintas dalam dada sang Ksatria.

“Setiap perubahan membawa energi ikutan dari pola yang terdahulu yang tidak semua tepat untuk diterapkan pada karakter cabang kehidupan yang baru dalam arah, kuantitas dan kualitas energinya. Perlu seleksi dan cipta kreasi murni untuk membentuk laras dalam keseimbangan yang baru. Dari sanalah bisa dikatakan terbentuk cabang kehidupan yang baru.”

“Mengapa dalam pembentukan cabang baru itu bisa terjadi sedimikian ektrim perubahan yang sangat kontras, dari sedemikian subur langsung menjadi hangus, kering dan patah ?”

“Akumulasi energimu untuk sebuah tahapan pokok pohon, kamu limpahkan semua kepada cabang baru itu, dan lagi pola antitesa masih lebih kuat mewarnai langkah pertumbuhannmu meskipun pola sintesa sudah mulai kamu sadari. Sekilas memang energi itu langsung bisa membentuk pertumbuhan yang ekstrem sampai ranting, daun, bunga, dan buahnya, sebab energi dari tahapan pokok pohonmu tentu akan terasa sangat besar dampaknya bagi cabang baru yang masih rapuh itu.Tetapi itu pula berikutnya yang menghanguskan secara drastis pertumbuhan di cabang itu. Sebab pola yang berlaku bagi pokok pohon memiliki daya yang sangat kuat walaupun itu teraktualisasi kecil di cabang pohon. Apalagi bila cabang barumu itu kamu cipta hendak menggantikan perjalalan pokok pohon itu sendiri, juga karena kerena dorongan energi dalam pola antitesa sebagai upayamu  untuk menghindari pertemuan hidup dengan cabang pohon lama yang tengah kering rantingnya itu. Inilah yang bertentangan dengan hukum alam Ngger…., pokok pohon adalah pokok pohon, dan cabang adalah cabang, semua sudah ada perjalanan dan darmanya sendiri-sendiri. Karena akarnya sudah menghunjam ke Bumi dan ujungnya sudang menyentuh langit. ”

“Lalu bagaimana tentang perpindahan dan perluasan kancah kesadaran ini Eyang ?

“ Disinilah dialektika antar pancer manusia untuk memahami punjer tatanan masing-masing. Dimana Kamu adalah cabang bagi punjer kehidupannya. Dan dia adalah cabang bagi punjer kehidupanmu.Wang sinawang Ngger…. “

“Iya… tapi itu hanya sebatas kesadaran pribadi,Eyang... Bukankah dalam kesadaran kolektif tidak bisa ada punjer kembar yang akan menjadi “Suryo Kembar” dimana perjalanan kodratnya masing-masing belum tentu dan sudah pasti tidak sama. Setiap pohon tumbuh berkembang berasal dari satu jenis bibit, sedang potensi hidup yang lain -bila mau bergabung- hanya bisa sebagai cabang, tidak ada dua jenis bibit  yang berbeda menjadi asal dari satu pohon yang sama?. Tidak mungkin bibit jati bersatu dengan bibit Beringin, dalam pertumbuhan sebuah pohon jati. Lalu bagaimana kita bisa bersatu dan bekerjasama bila masing-masing masih menghendaki sebagi punjer yang menentukan jenis pohon itu, Eyang ?.”

“he..he..he…kamu masih berfikir dalam dikotomi pola tesa-antitesa rupanya. Baiklah.. sesungguhnya pertanyaanmu sudah menjawab masalahmu sendiri Ngger ?” Tertawa geli sang Maharesi menyaksikan pergulatan budi sang kesatria dengan realita kehidupannya. “Bukankah dalam jagad gumelar di alam besar ini, kehadiranmu berasal dari dua bibit yang berbeda ? “ Sang Maharesi dengan sabar menyambung dan berusaha menggali ingatan primordial sang Ksatria.

Tertegun sang Ksatria dengan pertanyaannya sendiri, lama terpaku dalam perenungan menyelami kehadirannya di alam raya ini.

“Interaksi kehidupan ada dalam berbagai tingkatan kesadaran. Kamu masih berfikir dalam tingkat kesadaran pohon dan cabang rupanya, menyelamlah lebih jauh pada interaksi ditingkat bijih, bila kesadaran Lingga ( Satria sejati) sudah melewati Pola dinamika dikotomi Tesa -Antitesa bersama Yoni (Wanita sejati), sehingga jelas manifestasi realita kodrati bagi keduanya, Yoni sadar sebagai Yoni, dan Lingga sadar sebagai Lingga, maka perpaduan Lingga dan Yonilah yang berikutnya akan bisa melahirkan Pohon dengan segenap kesuburannya. Dari sana dialektikanya adalah melahirkan pohon jenis baru. Inilah hakekat sintesa,  Ngger…”

Terhenyak sang Ksatria, mendengar uraian bijak sang Maharesi. Ditelusurinya logika-logia asal muasal kejadian,  meski sudah terlihat cahaya terang, masih termangu sang Ksatria dalam mengambil langkah untuk berjalan.

“Tapi bagaimana dengan kesadarannya, apakah selama ini dia sudah sampai pada kesadaran ini, masihkah kesadarannya sebagai pohon  yang belum sadar akan asal muasal bijinya ? Atau sudahkah ditingkat kesadaran biji sehingga bisa diajak bersintesa secara harmoni ? Bukankah itu diluar kuasa saya untuk bisa menempatkan dia pada tingkat kesadarannya disana ?”

“Eyang paham maksudmu….,kebanyakan manusia, memang dalam kehidupannya tumbuh sebagai pohon, tapi masih belum sadar betul dengan asal muasal bijihnya, Sehingga setiap kehidupan lain yang hadir dihadapannya dipahami atau dianggap sebagai cabang bagi kehidupannya. Interaksi pada tingkat kesadaran ini biasanya akan membangun dinamika yang berbentuk dikotomi tesa dan antitesa, tapi sebenarnya kalau mau dirunut akan mengarahkan pada kesadaran biji masing-masing, alias tahu diri. Bila masing-masing sudah tahu diri yang sesungguhnya, barulah bisa dikatakan manusia itu sampai pada tingkat kesadaran Wiji sejati. Dalam kesadaran biji ini secara sederhana bisa diungkapkan dalam 2 bentuk kodrat kehidupan yaitu Lingga dan Yoni. Bicara tentang kuasa, Angger…mengingat manusia disusun dari perpaduan dua kodrat kehidupan yaitu Lingga dari ayah dan Yoni dari ibu, bukankah didalam dirimu juga berarti ada unsur Yoninya juga meski itu tidak mendominasi kehidupanmu….?”

“Tapi dalam kancah pergaulan dijagad besar, bukankah secara kodrati hanya perpaduan Yoni dominan dari individu perempuan dan lingga dominant dari individu laki-lakilah yang bisa memungkinkan terlahirnya kehidupan baru  Eyang…bukan antara Lingga yang dominan dan Yoni yang resesif dari dalam diriku sendiri? ”

“Ah…dengan adanya Yoni resesif didalam dirimu sendiri inilah tersedia jembatan yang bisa digunakan untuk membangkitkan kuasa kodrati dari seorang yang dominant Yoninya. Tanpa harus merubah dirimu seperti wanita. Itupun kalau kamu mau menggunakan kuasa kordati Yonimu ini lewat jagad kecilmu. Yang dari sana perimbangangan akan terjadi manakala kamu berperan di jagad besar sebagai Ksatria dengan Linggamu Ngger…Dalam beberapa kesempatan bukankah ada ksatria yang dominant peran Yoninya dari pada peran Lingganya ? Sehingga bisa melahirkan karya bersama antara laki-laki dan laki-laki. Ya…tentu saja bukan karya untuk melahirkan anak biologis, tapi karya kehidupan yang lainnya.Demikian pula dengan perempuan, pada salah satu kesempatan hidupnya ada yang harus lebih mengeluarkan potensi Lingganya dari pada Yoni. Inggatlah ngger Kodrat ini memang ada didalam diri laki-laki dan perempuan, tapi itu hanyalah symbol realita. Jadi lihatlah pada substansinya jangan luarnya saja.”

Takjub sang Ksatria menerima paparan wawasan hidup yang berasal dari peradaban purbakala ini.

“Mohon petunjuk Eyang bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan kuasa Yoni resesif dalam diri saya untuk membangkitkan Kuasa kodrat Yoni dominant bagi jodoh saya pada cabang kehidupan ini?”

Setelah termenung sejenak seperti sedang berkomunikasi dengan sosok lain nun jauh sana, sang Maharesi menghiasi bibirnya dengan seulas senyuman.

“Begini Angger,..karena ini berkait dengan Kuasa kodrati jagad besar jodoh laku pancer Yonimu, maka sudah ada yang bertugas sendiri untuk itu, Dia adalah pamomong kodrati dari jodomu itu. Dialah yang tahu banyak cara yang tepat untuk menerangkan dan menggunakan segala sesuatunya  berkait dengan masalah ini. Tadi baru saja aku berkomunikasi dengannya, dan dia dengan senang hati akan membantu kamu karena sudah menjadi darmanya dan mungkin memang sudah titi wancine. “.

“Terima kasih Eyang, lalu sekarang apa yang harus saya lakukan ?”

“Temuilah dia didasar samudera sana, dia sudah menunggumu, semoga kamu mendapat hasil dari apa yang menjadi kehendakmu.”

“Hamba mohon pamit Eyang, nyuwun tambah berkah pangestu”

“ Yo Ngger, sing ngati-ati lakumu, Eyang selalu hanjangkungi sliramu sakukuban mugo tansah teguh rahayu selamet.

Diiringi tembang Dhandang gula lantunan merdu sang Maharesi, menghangatkan dingin malam, menyibak halimun menyingkirkan awan kelabu. Terpancarlah sinar rembulan menghiasi keindahan langit jagad padang. Sang Ksatira mohon pamit mundur dengan santun.

Dalam naungan terang rembulan, sang Ksatria melesat ke selatan penjuru angin. Dibawah tampak alunan ombak samudera raya, memantulkan bias-bias sinar lembut sang candra. Terserap pesona harumnya melati, diikutinya belaian semerbak wangi itu ke dasar samudera. Duduklah dengan angun sesosok ibu sedang meronce kembang, mengalunkan tembang Kinanthi di tengah taman sari. Sang Ksatria duduk bersimpuh dibawah telapak suci sang ibu, menghaturkan sembah bakti dan doa puji.

“Weh…bocah yen dikangeni kok nggak datang-datang, baru setelah semua kelihatan muram dan gersang, mencari teduh dipangkuan. “

“Mohon maaf ibu atas kekhilafan dan salah hamba”

“Yah sudah tidak apa-apa, orang namanya ibu, hatinya mesti seluas samudera katanya, semua diterima suka maupun duka. Gimana Ngger, apa putrid-putriku cukup merepotkanmu ?” Tersungging senyuman menggoda dari sang Ibu.

“Mohon maaf ibu, putri yang mana yang panjenengan maksudkan ?” Merah muka sang Ksatria menahan gejolak romantika yang demikian rapat dipendam dengan beberapa wanita yang melintas dalam kehidupannya.

“Setelah perjalanan panjang memahami hakikat Prameswaren dan Paseliran, apa belum cukup banyak putri-putriku yang bisa merepotkanmu ? Kalau belum, nanti ibu kirimkan lagi juga tidak apa-apa kok. Masih banyak putri-putri ibu yang bersedia untuk menggembleng para Ksatria.”

Suara rendah yang halus itu, terasa menghunjam langsung di pusat sanubarinya, menggelembung besar bergejolak di dada sang Ksatria, terasa panas dingin, mengingat perjalanannya yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Semakin membuatnya terdiam tidak bisa mengurai segenap akal budinya. Yang dirasakan hanyalah sebongkah perasaan yang mengganjal berisi manis, pahit dan getirnya bersama pesona wanita. Sang ibu seperti tahu betul titik kelemahan yang sedemikian rapat disimpannya, sehingga setiap kata-katanya seperti mengaduk-aduk perasaannya.

“Yo wis ibu nggak akan menggoda kamu lagi, tambah merah saja pipimu, beginilah kalo ibu kangen melihat gregetmu, masa kangen aja kok ndak boleh to Ngger...aku tadi dapat kabar dari Eyangmu, katanya kamu mau mulai nyambung lagi dengan lakon lama yo Ngger…apa betul ?”

“Sepertinya garis hidup saya mulai mengarah ke dia lagi Ibu. Tapi mengingat kejadian-kejadian beberapa waktu lalu bersamanya, saya belum memiliki ketetapan hati untuk melangkah, apakah sudah tepat dan benar jalan yang saya tempuh ini.”

“Begini Ngger…beberapa waktu lalu, ketika kalian dipertemukan dalam kesadaran agung bersama ibu, yang bisa membawa kamu ke sampai tataran ini adalah perjalanannya. Lewat perjalanan hidupnya, kamu bisa menyerap banyak hal fenomena kehidupan yang menempatkan kamu pada sebuah kedudukan luhur di alam ini. Meski itu tidak dilakukannya dengan kesadaran penuh untuk dirimu, semua itu juga sangat tergantung kecakapanmu sendiri dalam menarik sari patinya perjalanan. Dimana dari bekal perjalanan itu selanjutnya kamu menggelar lakonmu sendiri dengan membangun bale somah untuk menghayati lakon Prameswaren bersama putriku yang lain. Dari sinilah segalanya mulai berubah, sejalan dengan terlahirnya punjer tatanan hidupmu sendiri, kedudukan dia pun secara alami tentu akan berubah. Bagimu, dia hanyalah salah satu cabang dari pohon punjer tatananmu, demikian pula sebaliknya. Maka berbagai hera-heru dan segenap perubahan yang terjadi berikutnya melahirkan pertumbuhan punjermu dalam pola antitesa dari punjer bale somahnya selama ini. Melihat realita tersebut tentu akan menjadi berat bagi kalian berdua untuk menjalaninya. Tetapi hal itu perlu untuk menambah bekal perjalanan kalian dengan berbagai gemblengan dinamika kehidupan. Mengurangi yang berlebihan, menambah yang kekurangan. Yang mana dari sana masing-masing kalian akan memiliki keteguhan, kecakapan dan kekuatan untuk menghadapai tantangan berikutnya. Akan tetapi setiap lakon tentu ada akhirnya. Berbagai dinamika kontroversi antar kalian ini akhirnya sampai pada puncaknya. Dimana dia mulai bisa menyadari kekurangan dan kelemahan dirinya, dan mulai menghargai kelebihan dan kekuatanmu. Demikian pula sebaliknya dengan dirimu, tentu lakon terakhir ini menjadikan kamu sadar diri, bahwa perjalananmu masih terkait erat dengan perjalanannya. Sehingga hanya perpaduan kalian berdua kembalilah yang bisa menyelesaikan segenap kepayahan, kesusahan, kelemahan dan berbagai penderitaan hidup kalian lainnya itu.”

“Tetapi sejauh mana Kami bisa bersatu kembali, mengingat segalanya sudah berubah, realitanya kami  sudah memiliki punjer bale somah sendiri-sendiri. Saya adalah pusat dalam tatanan hidup saya, dan dia adalah pusat bagi tata kehidupannya sendiri.  Kami bertanggung jawab menumbuhkembangkan punjer tata kehidupan masing-masing.”

“Benar, dan sepertinya tataran kesadaran hidup kalian sudah sampai pada Kodrat Wiji Sejati. Jadi tidak mungkin kamu tumbuh sebagai cabang dia, atau dia sebagai cabang kamu lagi bukan ?”

“Inggih, benar begitu ibu, tapi masalahnya hamba belum tahu benar apakah dia sudah menyadari hal ini sepenuhnya, sebab dalam pengejawantahan kesadarannya sangat berbeda dengan saya, ….dalam banyak hal dia masih membawa suasana yang menempatkan kedudukannya masih seperti dulu sebelum keadaan berubah, jadi setiap berdekatan dengannya yang terasa adalah dia menempatkan saya sebagai bagian dari cabangnya.”

“Bersabarlah anakku, dalam perjalanan hidup kalian, ibu sudah memberikan kancah kehidupan untuk kalian supaya bisa belajar dan saling mengajar. Dari pelajaran yang mampu kalian serap, tentu berbeda-beda cara dan hasilnya. Dalam dasa warsa pertama, sejak kalian menginjakkan kaki ke ranah bebrayan agung ini, garis kodratmu mungkin sudah mulai terbentuk dengan jelas, demikian pula dengannya. Hanya saja karena wiji sejati yang diturunkan Hyang Murbeng Dumadi bagi kalian tidak sama, tentu berbeda pula cara pengejawantahannya. Dan itu lumrah dalam berlakunya hukum alam yang unique, tidak ada satupun realita makhluk yang sama di alam raya ini. Maka hanya bagi yang sudah sampai tataran kesadaran hidup pada tingkat Wiji sejati inilah yang bisa menerima hakikat realita keberbedaan ini dengan seutuhnya. Untuk sampai ke sana banyak jalan dan cara, tergantung kodrat masing-masing. Jadi sebanyak wiji yang ditebar oleh Hyang Murbeng Dumadi, sebanyak itu pula cara dan jalan unique untuk menemukan kesadaran asal sebagai Prima Causa penciptaan makhluk ini.”

“Apakah boleh saya mengenal jalannya Ibu ?”

“Sudah menjadi wajibnya setiap manusia yang telah sampai kesadaran wiji sejati untuk mengenal jalan wiji-wiji kehidupan yang lainnya.Dengan begitu bisa menempatkan, dan menyesuaikan diri bersama mereka dalam menata pertumbuhan dan perkembangan kehidupan. Supaya dari pertumbuhan tiap pohon itu terbangun sebuah keselarasan harmoni dan membentuk Taman sari bagi alam semesta.Akan tetapi anakku…, dalam mengenal realitas agung ini hendaklah kamu memiliki patrap jangkep supaya tidak merusak tata kehidupan itu sendiri.”

“Apa yang dimaksud dengan patrap jangkep disini, Ibu..?”

“Ketahuilah anakku, kesadaran akan wiji sejati ini, sesungguhnya sebuah tahapan agung yang sudah tentu berkaitan dengan Kehendak Mutlak Gusti Kang Murbeng Dumadi. Jadi kehendakmu sebagai makhluk harus diselaraskan dengan Kehendak dari Yang Maha Kuasa. Sebab hal ini sudah menginjak pada rahasia kehidupan dari Sang Pencipta. Dimana dalam kebijaksanaan-Nya, realitas ini ada beberapa yang masih diselubungi tabir, ada yang memang sudah diperkenankan tersingkap supaya kamu dapat mengenalnya. Jangan memaksakan diri untuk mengetahui yang masih dirahasiakan-Nya. Percayalah semua berlaku Murih Becike untuk semua.Jadi patrap jangkepnya disini adalah jangan kamu mendahului Kehendak Yang Maha Kuasa.”

“ Tapi mengapa harus ada tabir-tabir itu, bukankah untuk bisa menempatkan diri dengan tepat kita harus mengetahui segala sesuatu dengan seutuhnya ? “

“Begini Cah Bagus….ingatlah bahwa seluas apapun kesadaran dan kemampuanmu menangkap realita kehidupan, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluasan Realita Yang mampu dipergelarkan oleh Yang Maha Kuasa, walaupun hanya dalam bentuk sehelai daun apalagi dalam bentuk sosok manusia. Segala sesuatu ada perhitungan dan tatanannya yang berjalan dalam hukum angger-angger langgeng. Dengan kebijaksanaan-Nya, ditutuplah beberapa hal untukmu supaya tidak berlebihan dalam menerimanya. Sehingga tidak membebani dan salah kedaden bagi dirimu dan kehidupan lainnya. Segala sesuatu itu ada masanya untuk tersingkap bagimu, sejalan kesiapan dirimu dan kancah kehidupanmu menerima realita itu.”

“Mohon petunjuknya ibu, apakah yang sudah diperkenankan bagi saya untuk mengenal sosok jodho lakon saya ini ?”

Angin menyapu lembut muka sang Ksatria. Dikalungkan oleh sang Ibu rangkaian bunga melati ceplok mawar merah dilehernya.Tertunduk takzim menatap kaki suci sang Ibu. Mengalun merdu tembang Mijil, mengiringi semerbak jebat kasturi membawa berdua berpindah alam dalam ruang gedong pusaka. Selendang putih melambai menyibak tirai. Terpampang Kaca Brenggala dihadapan sang Ksatria. Cahaya agung berpendar menyilaukan pandangan. Dibekapnya mawar merah yang terkalung di dada. Sembah sujud dihaturkan kepada sang Ibu yang tersenyum bijak mempesona. Diusapnya rambut sang Ksatria dengan penuh kasih sayang. Menyingkirkan segala penat dan kepedihan. Gemerincing gelang ditangan ibu, membangunkan kesadaran sang ksatria pada realita maya. Semakin jernihlah pandangan mata, menyaksikan pagelaran realita dalam Kaca Brenggala dari masa dahulu kala.

“Kakang, aku tidak bisa meninggalkan apa yang sudah menjadi prasetyaku kepada kakang. Kalau kakang tetap memaksa aku harus menikah dengannya, mungkin hanya sampai disini jalan hidupku harus kuakhiri. Kelak dalam kehidupan mendatang semoga kita bisa bertemu lagi.”

“Sabar Dinda, jangan mengambil jalan pintas, ini demi kehormatan Negara dan keluarga besar kita. Meskipun engkau tahu bahwa hatiku sudah tertambat kepadamu, tapi aku tidak bisa melanggar sumpahku kepada negara. Akan banyak yang merasa direndahkan bila kita harus bersatu, perang besar akan memakan banyak korban kawula yang tidak bersalah, dan aku sudah melanggar sumpahku dihadapan Paduka Sinuwun junjunganku. Ksatria macam apa aku bila mengkhianati tugas Negara demi kepentingan diri sendiri. Aku hanyalah utusan, bukan yang berhak menerima pinangan. Kalau aku tidak bisa menepati janjiku pada Kanjeng Sinuwun bagaimana kamu bisa percaya aku akan menepati janjiku padamu.”

“Jadi kakang lebih mementingkan pangkat, jabatan dan kedudukan kakang disamping paduka Rajamu daripada aku.Lalu apa artinya semua ini, mengapa kakang tidak terus terang saja dari awal kalau kakang sedang berupaya menundukkan kerajaan ayahandaku lewat tali perkawinan ini ? Dan kakang memperalat hati dan perasaanku untuk meluluskan pinangan Paduka Raja junjunganmu itu.”

“Maafkan aku dinda, bukan maksudku memperalat hati dan perasaanmu. Demi sumpah prasetyakuku pada Baginda Raja, aku harus mengorbankan banyak prinsip-prinsip militer yang selama ini aku gunakan untuk menaklukkan Negara lain. Dan aku harus berhadapan dengan jajaran dibawahku sendiri untuk menerima keputusan ini. Semua aku kalahkan demi mengikuti kehendak Keluarga kerajaan yang menghendaki kehadiranmu di Kerajaan kami lewat jalan terhormat dan perdamaian. Kalau hanya lewat jalan perang tentu suwe mijet wohing ranti bagiku untuk menaklukkan kerajaanmu. Mengingat besarnya pasukan yang kami miliki, dan banyak kalangan militer dibawah jajaranku yang tidak setuju dengan keputusan keluarga kerajaan itu. Mereka sudah terbiasa dengan peperangan tentu merasa direndahkan mengapa harus berubah dengan cara perkawinan, seperti orang banci yang takut darah dan tajamnya pedang. Untuk itulah dengan segenap kemampuan aku berusaha menekan naluri militerku untuk menundukkan kerajaanmu, aku sendiri yang harus menjadi telik sandi dalam menjalankan misi sulit dan sangat sensitive ini, untuk memastikan semua hal berjalan sebagaimana mestinya, dan tidak merendahkan semua pihak. Aku tidak mau ada yang memancing di air keruh.”

“Tapi ketika datang pertama kesini, dihati kakang sebenarnya memang ada niat mau menunundukkan kerajaan ayahanda seperti pendapat kebanyakan kalangan militer itu kan ?”

“Jujur saja Dinda, hasrat militer untuk menaklukkan itu selalu ada. Tidak mudah menghilangkan sama sekali naluri itu dalam benakku. Mengingat sepanjang sejarah hidupku dipenuhi dengan pahit getirnya peperangan, penaklukan dan perluasan kerajaan untuk kemakmuran bersama. Ibarat roda yang sudah biasa menggelinding, tidak mudah langsung menghentikannya.Dan untuk mengendalikan lajunya aku harus sekuat tenaga kembali kepada prasetya suciku ketika diangkat oleh Keluarga kerajaan. Jadi apapun keputusan para junjunganku harus aku taati walaupun itu bertentangan dengan naluri kebiasaanku.Untuk itulah dalam banyak kesempatan supaya bisa mengendalikan naluriku itu aku banyak berdiam diri dari kancah pergaulan keluarga kerajaan, supaya tidak memunculkan perdebatan. Dan sejalan dengan itu aku merenungkan berbagai sisi potisitf rencana persahabatan agung yang  menjadi keputusan keluarga besar itu. Menurutku untuk mendapatkan nilai-nilai positif itu akan semakin jelas dan mantap melaksanakannya bila aku bisa tahu langsung kondisi kerajaanmu, terutama tentang dirimu. Maka atas ijin langsung dari sang baginda, aku secara pribadi mengajukan diri menjadi telik sandi. Sedang diluar disampaikan dalam beberapa waktu aku akan tapa brata mengurung diri di kamar selama waktu yang dibutuhkan. Dan aku serahkan tugas harian kepada para sahabatku kepercayaan Baginda.”

“Lalu sejak kapan Kakang mulai berubah pandangan tentang kerajaan ayahandaku, sehingga kakang memutuskan untuk menyetujui dan mendukung sepenuhnya kebijakan persahabatan agung ini ?”

“Sebenarnya perubahan pandanganku tentang kerajaan ayahandamu ini lebih banyak dipengaruhi oleh sikap keluarga besar Kerajaan dalam memahami sasmita alam yang menempatkan dirimu pada…..”

“Ada apa dengan diriku, jangan coba-coba menjelaskan sesuatu yang menjadikan aku harus membencimu seumur hidup kakang !”

“Sabar Dinda, tenanglah….Aku akan membuka dan menjelaskan semua inti dari perjalananku selama ini untuk menemukan dirimu. “

Dada sang Ksatria terasa dipenuhi gumpalan hawa panas yang menyesakkan. Dihembuskannya nafas perlahan, untuk melepas segala beban. Ditatapnya rembulan yang memancarkan cahaya lembut menghiasi taman Kaputren. Pikirannya menerawang jauh mengapai ketenangan, mengingat perjalanan panjang dari sebuah pergolakan batinnya. Kemudian setelah semua tenang berkatalah sang Ksatria membuka tabir Niskala.

Ketahuilah dindaku… sesungguhnya di dalam dirimu tersimpan suatu Kuasa Yoni semesta yang mampu mewujudkan semua karya besar bagi sebuah peradaban. Dengan persatuan hidup bersamamu semua cita-cita dari seorang pemegang Yoni Buana ini bisa terwujud dengan sempurna sampai beberapa keturunannya. Sehingga setiap laki-laki yang menjadi pendamping hidupmu akan mampu mempengaruhi bahkan merubah arah sejarah peradaban manusia. Seperti yang pernah dikisahkan oleh para Tetua di kerajaanku yang  memberi nama Wanita dengan kuasa kodrati ini dengan istilah WANITO BOKOR KENCANA. Ini adalah keadaan yang sangat jarang sekali terjadi ada pada diri manusia. Ibarat ada satu diantara sejuta itu sudah bisa dikatakan banyak sekali. Di jaman dahulu kehadiran sang Bokor Kencana yang mendampingi seorang Raja di kerajaan inilah yang bisa melahirkan sejarah kerajaan-kerajaan besar. Dan sepertinya para tetua dikerajaanmu sudah tahu hal itu, sehingga mengajukan nasehat bijak kepada ayahandamu untuk menjagamu dengan sangat hati-hati dan terhormat. Bila tiba masanya kamu hanya akan dilepaskan kepada calon suami yang sepadan dengan tingkat kekuatan Kuasa Yoni semestamu itu, yang mana dia semestinya telah memiliki kerajaan yang demikian besar dan luas kekuasaannya sehingga layak untuk membentuk peradaban baru. Dan yang penting  keputusan dalam menerima pinangan dari setiap para raja dalam persahabatan agung harus menunggu keikhlasanmu. Sebab hanya dengan begitu Bokor Kencanamu bisa memancarkan dayanya secara optimal bagi kehidupan kerajaan tersebut. Setiap pemaksaan hanya akan menyebabkan kacaunya alam dan kehidupan, karena Yoni Bokor Kencana ini tersambung langsung dengan kekuatan alam.besar bila bersemayam pada diri manusia.”

“Darimana Kakang tahu semua itu ?”

“Dari sahabatku seorang Pandhita kelana, dia memberikan banyak wawasan kepadaku tentang keadaanmu itu. Dibandingkan berbagai pertimbangan yang lain, hanya inilah yang sebenarnya mampu mengusik jiwaku sampai aku mau menjalankan tugas telik sandi ke kerajaanmu dan mampu merubah sudut pandangku tentang kebijakan persahabatan agung ini pada awalnya. Mengingat hal ini sudah berkait erat dengan rahasia para pendeta kerajaan, hanya kalangan keluarga Kerajaan saja yang boleh tahu. Aku mungkin tidak akan pernah bisa memahami kebijakan ini kalau sahabatku pandhita kelana tidak menjelaskan semua itu. Karena semua keterangan tentang dirimu ini diluar bidang kebijakan dan informasi yang menjadi wewenangku di Kerajaan.Ini semua sudah berkait dengan alam, sehingga segala sesuatunya hanya ditentukan oleh bergeraknya garis kodrat kehidupan. Tidak ada satupun aturan Kerajaan yang bisa menembus atau mengaturnya kecuali atas ijin Yang Maha Kuasa. Dan para pendeta kerajaan yang memahami berjalannya hukum alam mampu menerima isyarat-isyarat itu. Katanya Jodoh dari Bokor Kencanamu itu ada di Kerajaanku. Aku tidak tahu persis siapa, apa, dan dimananya yang dimaksud dengan Jodohmu itu , karena katanya berbentuk Lingga Buana.Yang tentu saja hal ini tidak mudah untuk mencari ketetapan hukum atau menjelaskan segala sesuatunya menurut aturan Kerajaan secara formal. Tapi dari sanalah sesungguhnya awal mula terbentuknya kebijakan untuk membangun persahabatan agung dengan kerajaanmu.”

“Lalu kalau memang ini kebijakan berdasarkan hukum alam, mengapa malah begini jadinya, kalau aku boleh jujur…aku hanya jatuh cinta kepada kakang, segenap hati, perasaan, jiwa dan ragaku hanya akan aku relakan untuk kakang. Tapi kenyataannya mengapa aku harus menyalurkan dan menyatukan segenap jiwa ragaku kepada yang lainnya. Meski itu seorang raja besar sekalipun, tidak akan pernah bisa melawan atau memaksa hukum alam  dalam jiwa ragaku ini kan ? Mengapa…mengapa.ada apa dengan ini semua Kakang ? ”

“Itu juga yang menjadi pertanyaan besarku dinda, aku sendiri sudah berusaha mengunci hatiku dari setiap wanita. Sebagai Panglima Perang yang banyak menghadapi darah dan pedang, jiwaku sudah aku penuhi dengan sikap dan semangat jiwa ksatria yang mengagungkan kekuatan, kegagahan, tahan derita, kuat dalam prinsip, tidak cengeng, tidak mudah menyerah dan mengeluh kepada siapa saja. Sampai-sampai tertanam dalam keyakinanku wanita hanya racun yang melemahkan jiwa ragaku untuk mewujudkan cita-cita besarku mengabdi kepada Bangsa dan Negara. Tetapi sejak Sahabatku Pandhita Kelana menyampaikan wawasannya itu, aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang lagi. Ada keresahan dan gejolak yang belum aku mengerti arah dan maknanya. Ada dorongan yang sangat kuat dari dalam diriku untuk segera bertemu denganmu. Tapi pikiran warasku tidak bisa serta merta mengikuti dorongan  yang besar itu. Kemudian semua mulai sedikit terbuka  ketika aku teringat akan misi persahabatan agung  dan Lingga Buana yang berada di Kerajaanku itu. Dalam hatiku akan aku jalankan tugas ini, saat itu aku pikir mungkin inilah panggilan alam buatku untuk mempersembahkan dirimu bagi Negaraku yang  sangat aku cintai. Tidak terbesit sedikitpun untuk memilikimu untuk diriku sendiri. Karena sedari awal aku tidak mengenal perasaan kepemilikan pribadi dalam tugas negara. Semua aku persembahkan bagi kejayaan bangsa dan Negaraku. Kalau ternyata kenyataannya saat ini aku  terjerat perasaan cinta kepadamu, maka besar sekali dorongan untuk memilikimu untuk diriku sendiri. Dan itu berarti aku sudah mengkhianati misi awalku datang kesini. Untuk itu aku harus rela mengorbankan semuanya, sebagai darma Ksatria tidak akan menjilat ludah sendiri bila sudah bersumpah prasetya kepada tugasnya.

“Kakang, ketahuilah ssesungguhnya engkaulah pembawa belahan takdirku. Tidak ada artinya Kuasa Bokor Kencana tanpa bertemu Linga Buana. Pada kenyataannya, karena sumpah dan kerja kerasmu, kerajaanmu menjadi besar. Dengan kuasa Lingga Buana yang ada di dalam dirimu, maka kamu mampu meraih kemenangan demi kemenangan, kesuksesan demi kesuksesan dari bawah sampai mencapai puncak kejayaan.Dari raja berganti raja, selalu kamulah yang menjadi pendamping utamanya. Sesungguhnya pada dirimulah tempat Lingga Buana bersemayam di kerajaanmu Kakang…dirimulah Lingga Buana itu, seperti halnya aku sebagai Bokor Kencana disini. Tapi sampai kapan kesuksesan dan kejayaaan ini mampu bertahan tanpa dirimu, Kakang. ? Sehingga hanya pada masamu saja kerajaan mengalami puncak kejayaan dan kemakmuran. Aku khawatir kakang, setelah sepeninggalanmu, kerajaanmu akan menjadi surut. Karena tidak adanya keturunan yang menopang kekuatannya yang berasal dari Wiji sejati. Jadi sudah saatnya kini Lingga buana menemukan jodohnya untuk bersatu dengan Bokor Kencana membentuk keturunan untuk memelihara kejayaan bangsa dan Negara kita bersama,.. kakang.

Tersentak kaget sang Ksatria. Sedemikian jauh kemampuan  sang Putri menembus tabirnya. Bahkan dia sendiri selama ini tidak pernah menyadari dari mana segala kekuatan yang menopang setiap gerak dan langkahnya. Kuasa jodoh antar merekalah yang menyingkapkan tabir-tabir pemaknaan Kodrat hidup dalam diri mereka. Tetapi kembali selubung batu merayapi permukaan wajah. Dalam hidupnya  kini Sang Ksatria tidak hendak melanggar sumpahnya. Sedia ditanggungnya segenap kesulitan, bila teringat realita alam akan kodrat pertemuan agung para pendahulunya yang menyisakan duka nestapa.

“Dinda, mungkin memang sudah menjadi suratan takdir. Terlalu banyak yang harus dikorbankan bila saat ini kita hendak menentang keadaan yang sudah berkembang. Sebab semua pihak sudah menafsirkan bahwa Lingga buana  di Kerajaanku itu disombolkan dengan penguasa tertinggi dari Kerajaan. Maka  hanya Sang baginda simbol yang paling tepat untuk itu, sebab Beliau yang paling berhak dan berkuasa penuh atas semua wilayah di kerajaanku. Untuk itu hanya beliaulah yang paling layak bersanding  denganmu. Itulah pemikiran yang berkembang di dalam kerajaan dan para pendeta yang menerima isyarat alam tersebut. Meski hati kecilku juga tidak rela menerima kenyataan ini, dimana kelak kerajaanku akan surut, dan dirimu terlepas dari genggamanku, tetapi aku tidak mau mengulangi sejarah tragis di Singosari antara ken Arok dan Ken Dedes. Dimana pemaksaan terhadap realita kodrati untuk bertemunya Lingga dan Yoni demi kejayaan malah melahirkan balas dendam turun temurun yang tidak berkesudahan. Jaman memang sedang kacau, banyak hujan salah mongso. Manusia dengan anggapannya sendiri. Menentang alam tidak disadari. Mencari menangnya sendiri, Kebenaran identik dengan kekuasaan. Siapa yang berkuasa dialah yang benar. Siapa yang lemah dialah yang salah. Biarlah semua berjalan sebagai mana mestinya. Setiap kejayaan memang ada masanya. Alam akan bergerak menatanya. Hanya saja dalam menjalani hidup tidak sepantasnya kita melangkah mundur dengan melanggar sumpah dan mengorbankan yang lebih besar karena kepentingan dan hasrat pribadi. Ingatlah sang pembawa takdir juga pembawa pengorbanan terbesar dari dalam dirinya. Semoga di kehidupan mendatang kita bisa rangkai kembali cerita dengan lebih baik bila Hyang Maha Wisesa mengijinkan.”

Terdiamlah sang Putri sekian lama, meleleh air mata kepiluan meratapi nasib, alam tidak memberinya ruang untuk berbagi kasih dengan yang diidamkan. Tetapi mengapa tersambung benang kebahagiaan yang kuat mencengkeram sukma. Diikat oleh rangkaian takdir yang mendekatkan hati begitu rapat. Tak hendak dilepaskan, setiap detik bersama sang pujaan. Mengalun tembang Megatruh dari bibirnya yang ranum bergetar. Menyiratkan kepedihan yang dalam akan sebuah kehilangan. Berdiri dihadapan dinding kokoh Sumpah sang Ksatria membatasi sekat gerak hatinya. Tak tahu kemana harus melangkah. Mendekap lembut tangan Sang Ksatria, merengkuh bunga dalam jambangan hati yang retak. Menahan pilu kenyataan yang bertolak. Disisirnya garis-garis lembut dalam perasaan. Untuk menuntaskan tugas yang mesti diemban.

“Dinda…Marilah kita tapaki takdir ini dengan kekuatan jiwa dalam pengorbanan rasa. Tajamnya pedang dan tombak, setiap jengkal kulit dan dagingku sudah biasa menghadapi kepedihannya. Tapi kasih sayangmu yang sudah demikian dalam menghunjam hatiku, seperti seribu panah dari segala penjuru. Tidak ada satupun tempat yang dapat aku bersembunyi darinya. Kemanapun aku melangkah bayang-bayangmu selalu menyertaiku. Dalam seratus tahun pun tidak akan ada yang bisa menghapuskan pedihnya ketika ditarik dalam sayat sembilu. Tidak kelihatan diluar tapi sedemikian perih didalam. Tapi disini baru aku menyadari ternyata musuh terbesar bagi negaraku adalah diriku sendiri.Aku harus bisa mengalahkannya. Sepedih apapun perasaan itu aku harus menjalaninya.”

“Baiklah kakang, kalau engkau sudah begitu keputusanmu, aku tidak bisa memaksamu dan aku akan coba sebisaku menjalani takdirku. Tetapi berilah aku kesempatan terakhir untuk mengungkapkan betapa berartinya dirimu bagiku.Aku akan mengajukan syarat  bahwa aku hanya mau menjalani ini semua bila dalam pertemuan Persahabatan agung nanti, harus kakang sendiri yang  menjemput kehadiranku di lapang padang. Dan Kakang sendiri yang menyerahkan diriku kepada Sang Baginda Junjunganmu. Disana kakang bisa menyaksikan pengorbananku yang akan menentukan arah bagi kehidupan dua kerajaan yang sama-sama kita cintai ini.. Bukankah cinta berarti pengorbanan kakang ?”

Tidak tanggap dengan sindiran lembut sang Putri, Sang Ksatria berujar dalam terawang jauh pandangan ke masa kepedihan kelak.Tidak jelas kepedihan akan terpisahkan atau kehilangan. Keduanya bergumul dalam benak yang sarat dengan beban kegamangan jiwa akan sumpah prasetya dan seminya bunga asmara yang terasa menghanyutkan dalam telaga bahagia yang memedihkan rasa.

“ Iya Dindaku, jika sekiranya dibutuhkan, segala pangkat, jabatan, kedudukan, harta benda, jiwa, raga dan semua yang aku miliki juga akan aku korbankan untuk menyambut pengorbananmu di lapang padang. Semoga pertemuan kita dari rentang penjuru timur dan barat dalam pengorbanan ini bisa menjadi persembahan agung berjalannya kehidupan, untuk membersihkan alam ini dari setiap kebodohan, keangkuhan, dan keserakahan sifat manusia dari jaman ke jaman. Meskipun ragaku tidak bisa bersamamu nantinya, tapi hati dan jiwaku selalu menyertaimu.”

“Aku tunggu janjimu di tepis wiringe kodrat kakang…”

Gemerincing gelang tangan sang Ibu, seperti membebaskan sang Ksatria dari terserap  lamunan panjang di depan Kaca Brenggala. Kembali cahaya berpedar, memencarkan aura kemerahan yang menyesakkan dada. Terasa dari dalam, darah mengalir kencang, degub jantung tak berarturan, otot-ototnya terasa kaku, dan mukanya memerah panas.Belaian lembut sang Ibu di pundak dan lehernya, menyerap seluruh duka nestapa. Perlahan tapi pasti kesegaran muncul.Pandangannya kembali jernih, udara terasa segar terhirup penuh mengisi dada. Sang ibu mememberi kekuatan padanya supaya bisa melanjutkan menyaksikan cerita jaman dahulu kala. Bayangan kabut putih berpendar cahaya merah perlahan-lahan menipis dan menampilkan cerita lama dari Kaca Brenggala.

“Mengapa ceritanya jadi begini kakang pandhita, aku tidak menyangka akan mengalami ini. Seumur hidupku baru kali ini aku tidak kuasa menolak dorongan yang begitu kuat dalam hatiku. Sudah banyak pertempuran aku lewati, nyawa yang hanya selembar ini pun sudah berulang kali hampir melayang meninggalkan jasadku. Semua ketakutan, kekhawatiran akan kehilangan, pangkat, jabatan bahkan nyawa sekalipun dalam pertempuran selalu bisa aku atasi. Bahkan kemenangan, kejayaan, puja sanjung yang berkali-kali aku dapatkan tidak bisa menggoyahkan prasetya pengabdiannku. Aku selalu bisa menekan dan mengendalikan berbagai gejolak jiwaku dari segenap kelimpahan harta dan kedudukan bahkan dari kemolekan tubuh maupun kecantikan wajah sekar kedathon  hasil pampasan perang yang selalu diperebutkan oleh para bangsawan. Sedang sebagai pucuk pimpinan perang sebenarnya aku yang pertama punya kesempatan untuk mendapatkan semua itu bila memang aku menghendakinya. Tidak…kakang…tidak sedikitpun itu semua mampu menggoyahkan prasetyaku. Tapi mengapa kali ini demikian sulit aku menolak perasaan untuk mendapatkan dirinya. Sedang kenyataan jelas-jelas aku hanyalah seorang utusan khusus baginda yang datang untuk memuluskan jalan meminang dirinya dan  mempersembahkan kepada Sang Baginda. Bagaimana kalau sampai ada yang tahu. ”

“Tenang Dimas…tenangkan hatimu, tidak usah kamu  terlalu khawatir dan resah begitu, rahasiamu aman ditanganku. Aku tahu pasti dan percaya sepenuhnya padamu dimana kamu meletakkan kesetiaan pengabdian selama ini.”

“Didalam tugas telik sandi pun belum pernah selama ini misiku tercampuri oleh hasrat pribadiku yang bisa mengacaukan semuanya.Aku punya cukup disiplin diri, meski seorang wanita cantik dan penuh gairah datang menyediakan diri seutuhnya untukku kalau ternyata dia adalah mata-mata musuh tidak segan-segan aku menghabisi nyawanya. Tapi mengapa Kakang Pandhita…mengapa bisa jadi begini..?”

Dalam hening sanggar pamujan, sang Pandhita Kelana malantunkan doa puja brata kepada Sang Pencipta, hendak diturunkannya kekuatan niskala meredam gejolak jiwa sang Ksatria. Suara lembut doa sang Pandhita menyirami bara dalam jiwa, meredam segenap ombak, menatanya runtut dalam pertalian suksma dan raga. Meneguhkan kembali pilar keyakinan, memantapkan kaki dalam pijakan, menjernihkan setiap  arus pemikiran. Tenanglah Sang Ksatria, bagai diayun didalam keheningan telaga warna.

“Dimas, apa yang sedang kamu alami, ini sebenarnya juga  diluar dugaanku. Para Tetua di kerajaan ini dengan segenap kewaskitaannya demikian bijak telah menyembunyikan rahasia kodrati ini dari semua kalangan termasuk keluarga kerajaan dan aku. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya rekomendasi khusus dan persetujuan para Tetua kepada Baginda untuk menugaskan kamu menjadi telik sandi ke barat tanpa penjelasan. Dan itu terjadi sebelum kamu mengajukan diri secara pribadi kepada Baginda. Tentu saja dengan senang hati dan penuh keyakinan Baginda memberikan ijin itu kepadamu. Selanjutnya  aku diminta secara khusus oleh Bapa Maharesi untuk membekali perjalananmu kesana dengan sedikit wawasan dari para Tetua. Rupanya ini jadinya…ternyata ada upaya penyingkapan tabir untuk membuka rahasia besar kodrat alam bagi  kerajaan kita oleh para Tetua.”

“Apa yang kamu maksudkan dengan semua itu kakang Pandhita, aku semakin tidak mengerti ?”

“Dimas, dahulu aku pernah menyampaikan kepadamu bahwa sang Pembawa takdir sekaligus pembawa pengorbanan terbesar dalam dirinya bukan ?”

“Iya kakang, bahkan itu  juga yang aku sampaikan kepada Dindaku waktu disana.”

“Lalu apa yang dia sampaikan kepadamu ?”

“Itulah yang tidak aku mengerti kakang, bahkan aku sempat tersentak dengan uraiannya yang sedemikian dalam, tajam dan tidak terbantahkan dalam hatiku. Dia katakan bahwa akulah Lingga Buana itu, akulah belahan takdirnya, dan hanya akulah yang dicintainya. Aku bingung kakang….ketika sadar dengan tugas utama yang membawaku kesana. Sampai aku sendiri harus berusaha keras dan sekuat tenaga menyingkirkan realita yang dia ungkapkan itu dengan memperkuat tekad dan sumpah prasetyaku kepada Baginda dengan mengorbankan segala yang aku miliki.”

“Ah…terjawab sudah akhirnya apa yang menjadi kegelisahanku selama ini. Jelas sudah dari mana mau kemana semua ini berpangkal dan berujung.”

“Apa yang kau maksudkan kakang ?”

“Begini Dimas sesungguhnya sepeninggalanmu, aku menerima banyak sasmita dari Bapa Resi dan para Tetua tentang Negara kita, yang intinya bahwa bila sesuatu yang sudah sampai puncaknya tunggulah kejatuhannya. Keseimbangan alam dan peradaban perlu dijaga. Segala yang didapat harus ada tebusan untuk mengembalikannya. Ibarat perjalanan matahari, tugasmu dari Timur ke Barat tunai sudah Dimas. Hari-hari berikut kita akan menyaksikan perputaran roda kehidupan yang akan menunjukkan pengejawantahan tugas dan darma ksatriamu itu seutuhnya. Sepertinya kita harus mulai bersiap-siap menerima kenyataan pahit hadirnya perubahan kehidupan bagi kerajaan kita dengan sabar dan tabah.”.

“Sedemikian besarkah pengaruhnya tugasku kali ini bagi Kerajaan kakang ? Bukankah aku sudah berulang kali keluar masuk kerajaan lain sebagai telik sandi. Kegagalan dan keberhasilan dalam tiap operasi bukankah itu sesuatu yang lumrah dan sering terjadi.Dalam berbagai kesempatan Sri Baginda pun tidak segan-segan memberikan kepadaku sanksi hukuman bila gagal, dan penghargaan bila berhasil. Dan aku menerima semua itu dengan lapang dada. Lalu apa bedanya kali ini ? Apakah aku sudah gagal dalam menjalankan tugas Kakang ? “

“Dimas, kali ini sepertinya lebih bijak bila kita tidak memandang dan menilai tugasmu ini seperti tugas-tugas lainnya. Karena kalau dirunut awal mulanya, sesungguhnya yang menugaskan kamu bukan Sri Baginda, tapi hakekatnya adalah para Tetua Kerajaan. Kita semua tahu, bahwa para Tetua ini baik yang berkenan duduk secara formal di kerajaan maupun yang informal diluar kerajaan, adalah manusia yang sudah mencapai tataran kesadaran hidup yang sangat tinggi, sehingga bisa dikatakan sebagai manusia paripurna. Yang mana setiap ucap, sikap, tindak, dan semua gerak hidupnya sudah menyatu dengan hukum alam. Yang dari lisan, penglihatan dan pendengaran beliau-beliau kita semua termasuk Baginda diarahkan dan menerima tuntunan serta petunjuk dalam menjalankan roda pemerintahan dan Negara dari sebuah desa kecil ditengah hutan hingga kita mampu mencapai Kejayaan, Kemakmuran dan Kekuasaan luas dari ujung timur, barat, utara dan selatan seperti saat ini. Oleh karenanya ketahuilah Dimas, tugasmu kali ini hakekatnya mandat  dari alam. Sehingga aturan yang berlaku pun bukan lagi aturan kerajaan, mungkin banyak aturan kerajaan yang tidak bisa menampung banyak hal tentang ini dengan utuh. Bahkan Sri baginda sendiri berhadapan dengan hukum alam sama kedudukannya dengan kita. Beliau adalah salah satu bagian yang ikut berperan menggenapi rangkaian jalannya cerita alam semesta. Semua sudah masuk kerangka fenomena alam. Jadi tidak ada satupun yang bisa mencegahnya, menghalangi, mengajukan maupun mengundurkannya. Termasuk dirimu sendiri. Untuk itu sebelum aku uraikan lebih lanjut, bagaimana pendapatmu sendiri tentang ini semua.”

“Itulah anehnya Kangmas, sedari awal aku merasakan ada yang janggal pada diriku ketika pendapat dari semua kalangan kerajaan terbelah antara penaklukan militer dan persahabatan agung. Pandangan umum yang sudah terbiasa melihat sepak terjangku, tentu menempatkan diriku di pihak yang setuju kepada penaklukan. Bahkan aku dijadikan simbol utama dari pihak yang setuju dengan penaklukkan militer. Akan tetapi ketika aku sendirian, Akau berusaha menggali dari lubuk hatiku yang paling dalam dan jujur pada diriku, ternyata yang kurasakan malah lain sama sekali. Aku merasakan seperti ada diluar itu semua. Aku seperti melihat ada sebilah pedang yang bersanding dengan selendang. Ada dorongan lembut dari hatiku untuk merubah keadaan tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan lewat peperangan, tapi juga bukan lewat perkawinan. Tapi jalan apa itu entah aku juga belum tahu. Aku yang biasa bersikap  jelas dan tegas dipihak mana antara kawan dan lawan, tentu hal ini membingungkanku. Sampai akhirnya Kakang memberikan wawasan itu. Mulai dari situ kang, aku merasakan ada dorongan yang sangat kuat untuk bertemu dia. Menurut pemikiranku kunci dari ini semua terletak pada kehendak bebas sang putri sendiri. Itu yang semula masuk dalam pikirianku. Untuk itulah aku memberanikan diri untuk bersikap terbalik dengan pandangan umum tentang diriku dan meminta ijin kepada Sri Baginda untuk membuka jalannya. Aku tidak tahu kalau ternyata sebelum itu Sri Baginda sudah mendapat mandat alam lewat para Tetua untuk menugaskan aku kesana. Begitu Kangmas…“

“Dan ketika pertama kamu sampai disana apa yang kamu alami dan yang kamu rasakan?”

“Selain pada awalnya ada dorongan yang semakin kuat dari dalam diriku, sejalan aku menginjakkan kaki di bumi kerajaan itu, aku mulai merasakan ada tarikan dalam rasaku yang awalnya tidak jelas dari mana sumbernya. Tapi lama-lama tarikan itu semakin jelas dan kuat seperti membentuk sebuah jalan terbentang luas dan sangat mudah untuk dilalui, Tarikan itu seperti punya kekuatan menarik diriku hingga mampu menembus tembok kaputren kerajaan bahkan kalau perlu bisa sampai ke tempat pembaringannya. Aku pikir ini hanya khayalanku semata, tapi  semua rasa itu sedemikian meyakinkan sampai aku beranikan diri mencoba mencipta dalam pikiranku menjadi sebuah keadaan yang wajar supaya aku bisa bertemu dengannya di suatu tempat di kerajaan itu. Dan ajaibnya pada hari itu juga terlaksana persis seperti yang aku pikirkan. Dengan mudah aku bertemu dan tercipta suasana yang memungkinkan aku berkanalan dan  berbicara, langsung akrab seperti sudah sangat dekat dan kenal lama dengannya. Hari-hari selanjutnya aku merasakan seperti mampu membentuk hubungan yang lebih dekat dengannya menembus bukan hanya tembok kaputren kerajaan, bahkan tembok-tembok sosial pun mampu aku lewati. Semua yang aku ciptakan semua terjadi. Bahkan seluruh alam seperti tertata sedemikian rupa mengikuti irama pertemuanku dengannya.Hujan, panas, mendung, cerah, ramai, sepi, siang dan malam seperti selalu tertata sedemikian rupa untuk pertemuan kami berdua. Bersama-sama dengan kekuatan rasa yang sudah menyatu didalam hati, Kami mengatur segalanya. Sampai aku merasakan hanya berdua di bumi ini dengannya.”
  
Hilanglah dari pandangan sang Ksatria akan Pandhita kelana yang didepannya, terhanyut dalam kenangan terdalam, perjumpaan pertama dengan sang belahan jiwa. Dirasakan Anggur asmara demikian memabokkan, melayang, menembus awan kehangatan bersamanya. Petir menyambar menghentak hati, merobek angan yang sedang mengambang, menggambar langit dalam bayang-bayang. Sang Pandhitha kelana menyela dengan canda, ditengah kepedihan rindu terlarang sang Ksatria.

“Dimas, aku mengenal betul dirimu. Apakah kamu sadar dengan apa yang telah kamu ceritakan itu. Aku tidak melihat dirimu yang biasanya ada disana Dimas…he..he..”

“Maafkan aku kakang, meski aku sudah berusaha mebenamkan jauh-jauh dari alam sadarku, tenyata sedikit sentuhan saja, semuanya terburai keluar tak mampu aku mengendalikannya. Ada apa sesungguhnya yang sedang terjadi padaku Kakang Pandhita?”

“Baiklah Dimas, sebelum aku jelaskan, ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan. Dimana pikiran sehatmu ketika ada rasa yang demikian kuat tersambung diantara kalian ?”

“Inilah kakang yang membuat aku jadi takut dengan diriku sendiri. Aku merasakan pikiranku mampu menembus jauh ke dalam dirinya sampai apapun yang dia pikirkan atau hendak diucapkan aku seperti mampu merasakan, mengerti dan mengetahuinya. Demikian pula sebaliknya, seolah tidak ada yang terahasiakan lagi diantara kami berdua. Sehingga sering kali Kami jadi tersenyum sendiri bila sedang bertatap mata. Meski tidak berbicara, tapi dari pandangan mata sudah mampu mengatakan banyak hal yang terlalu cepat untuk disampaikan dengan kata-kata. Dan yang lebih gila lagi, aku seolah-olah mampu melihat seluruh isi kerajaan itu dengan segenap kesibukkannya lewat penyatuan rasa dengannya. Demikian pula dirinya. Kami seperti mampu melihat seluruh isi dunia bersama-sama, dimanapun, kapanpun dan apapun yang Kami kehendaki. Apakah ini bisa dikatakan pikiran warasku Kakang ?”

Tersenyum bijak sang Pandhita Kelana mendengar uraian sahabatnya. Bagi dirinya fenomena batin yang sedemikian meluas pernah disaksikannya bahkan dirinya sendiri pun pernah mengalaminya seiring pergaulannya dengan para Tetua. Melihat sahabatnya yang sedang mengalami perluasan kesadaran sebagai sesuatu hal yang baru, heboh dan menakutkan, dengan tenang dia menghadapinya.

“Bagaimana ketika kalian sedang tidak bertemu ?”

“Jarak sepertinya tidak berarti lagi. Ketika badannya sedang mengalami panas atau dingin, sehat atau sakit, aku pun seperti mampu merasakan keadaannya. Apalagi ketika dia sedang cemas, khawatir, senang atau bahagia demikian jelas aku merasakannya. Dalam banyak hal kami sering merasakan keadaan satu sama lain ketika sedang tidak bertemu. Dari sinilah yang memunculkan banyak cerita yang tidak ada habis-habisnya walau semalam suntuk  kami bertemu. Perpisahan fisik seperti basa-basi saja, sebab pada kenyataannya ketika di penginapan dan dia di kamar kaputren aku masih selalu merasa bersama dengannya.”

“Ada yang menarik Dimas, Penyatuan rasa kalian seperti mampu mencipta dan menata segalanya, bagaimana maksudnya itu ?”

“Kakang tahu sendiri, keberadaanku disana sebagai telik sandi dan dia seorang sekar kedhaton,  tentu perlu penataan segala sesuatunya untuk bisa bertemu tanpa merusak tata krama, dan kelumrahan yang ada. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sejak perjumpaan awal itu, aku seperti langsung punya jalur batin untuk berkomunikasi dengannya. Pada awalnya Kami belum menyadari, ketika tiba-tiba sering bertemu di pasar atau taman kota, semua terjadi seperti yang aku kehendaki dalam gerak batinku. Sampai akhirnya Kami sadar bahwa kami bisa mengatur keadaan sedemikian rupa, sehingga  baik keluarga kerajaan, prajurit, maupun para abdi dan lingkungan sekitarnya semua seperti mengikuti kehendak gerak batin Kami. Mereka berjalan pada acara masing-masing, tapi semua seperti memberi kesempatan kepada kami untuk bertemu. Kami tinggal sepakat saja bentuknya. Maka seketika itu yang dikehendaki, seketika itulah yang terjadi. Pada malam hari. berjumpa di kaputren sudah seperti lingkungan yang tidak asing bagiku untuk keluar masuk dengan leluasa disana. Seperti ada irama kehidupan yang memudahkan semua berjalan wajar apa adanya. Bahkan ketika aku hendak pulang ke penginapan tapi kebetulan terhalang hujan, kami berdua menciptakan keadaan dengan segenap rasa, maka tiba-tiba cuaca bisa terang seketika itu juga. Inilah yang aneh kakang….bersamanya jiwaku seperti dikuasai sesuatu tapi aku juga memiliki kekuasaan untuk mewujudkan semua yang aku kehendaki.Tapi semua itu tidak bisa terjadi bila tidak ada kesepakatan alami diantara kita. Jadi semua harus sama-sama ikhlas dan tidak terpaksa,bila keadaan itu tercipta maka semua bisa mengalir terjadi begitu saja.”

“Nah ini …Dimas, dari sedikit uraianmu, sekarang bisa kamu bayangkan bagaimana seandainya kalian bersepakat untuk sesuatu masalah kehidupan berupa sebuah tugas Negara, coba bayangkan apa jadinya ? “

Tertunduk muram Sang Ksatria, mendung kelabu mengelayuti rona wajahnya. Bayangan cerah penuh gairah tersapu prahara kenangan perjuampaan terakhir dengan sang kekasih. Gundah mengguncang menyesakkan dada. Tak kuasa mengungkap dengan kata-kata. Sang Ksatria pantang meneteskan air mata. Ditahananya gemuruh selaksa perasaan, dibenamkan dalam relung hati yang penuh sesak duka nestapa. Diceritakanlah kepada sahabatnya Pandhita kelana semua isi pertemuan terakhir dengan Sang pujaan hati. Setelah tuntas bercerita, sambil menahan sesak didada sang Ksatria lirih berucap.

“Itulah awal dari akhir semuanya Kangmas,……sejalan pikiranku melangkah kesana, seolah seluruh energi penyatuan kami seperti mengarah pada satu benteng besar yang Kokoh tidak mungkin tertembus. Tanpa aku ungkapkan dia pun akhirnya menghetahui identitasku yang sesungguhnya. Dia sempat kaget dan kecewa. Akhirnya aku jelaskan duduk masalahnya sedari awal. Disinilah Sumpah prasetyaku kepada bangsa yang sudah membesarkanku, menjadi tembok benteng  yang menghadang itu, kakang. Sejak hari itu, tidak mudah Kami untuk bisa merasakan kembali harmonisasi seperti sebelumnya ini. Hari-hari terasa semakin perih, dan kelam. Aku berjalan terasa lambat tanpa arah tujuan.  Cerita selanjutnya Kakang sudah tahu sendiri kesepakatan Kami untuk kedepannya. Aku mulai menyadari bahwa ini bukanlah sesuatu yang harus dimiliki. Bagaimana aku bisa menggunakan tanpa memilikinya ? Dan Bagaimana dia mau digunakan bila bukan pemilik yang seharusnya. Aku bingung kakang….mengapa alam  memberi mandat sedemikian rupa kepada kami ?”


“Aku turut prihatin dengan keadaanmu Dimas. Bersabarlah…Tenangkan dirimu. Semoga lesanku diberikan kuasa oleh Hyang Waseso Jagad untuk bisa menjadi perantara pengobat kepedihan jiwamu. Tuhan Yang Maha Bijaksana, tentu punya kehendak dibalik ini semua. Tidak ada satu pun yang luput dari kasih sayang-Nya.”

Sang Pandhita Kelana memberi ruang mengusir sesak di dada sang Ksatria. Dikeluarkannya Lontar suci peninggalan jaman dahulu kala. Para Pujangga menorehkan kebijakan hidup, dalam bait-bait kemuliaan. Harum bau cendana wangi mengisi ruang. Menyejukkan jiwa yang hendak mengisap sari pati kebijakan purbakala. Nun jauh disana, para Tetua Agung tertunduk takzim mendengar sabda alam. Mengiringi langkah dengan senyum bijak kedua sahabat satria pinandita yang tengah menjalankan darma. Puja bakti dan berkah pangestu selalu diguyurkan bagi keduanya. Berbagi cerita alam. membedah makna Kodrat kehidupan peradaban manusia pada suatu jaman.

“Begini Dimas, seperti halnya matahari terbit dari timur menerangi jagad, dan tenggelam di barat. Tidak ada satupun manusia yang bisa mencegahnya, meskipun itu seorang Raja Besar dengan kekuasaannya yang luas, atau seorang MahaResi yang paling sakti mandraguna dan terkenal di sampai keujung dunia. Semua makhluk tidak terkecuali menerima perjalanan realita itu apa adanya. Jadi tidak ada yang bisa disalahkan maupun dibenarkan dari setiap fenomena yang berkaitan dengannya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Dan masing-masing sesuai dengan kodratnya akan mengambil sikap yang akan menentukan bentuk kehidupannya. Setiap kita bebas untuk memberi bentuk berkait dengan fenomena alam itu. Apakah kita mau marah kepada matahari karena sengatan panasnya yang menyakitkan kulit, ataupun bersyukur karena kering cucian bajunya. Tapi apapun sikap dan penilain manusia, matahari tetap menjalankan darmanya, tanpa tergoyahkan dengan setiap penilaian yang diberikan manusia kepadanya. Disinipun tidak ada prestasi maupun kegagalan bagi sang matahari. Selama bumi beredar pada poros dan orbitnya mengelilingi matahari, dan terangkai utuh bersama planet-planet, bintang-bintang dan seluruh benda di jagad raya, dalam suatu hukum alam yang mengaturnya, realita itu tetap akan terjadi. Jadi sesungguhnya yang menyebabkan realita itu terjadi adalah berjalannya hukum alam itu sendiri.Jadi tetaplah menjadi matahari kalau memang darmamu harus menjadi matahari.”

“Tapi bukankah matahari adakalanya tidak mampu menyinari bumi ketika ada awan tebal membentuk mendung dan selama hujan di siang hari Kangmas ?”

“ Itulah manusia yang memberi penilaian Dimas. Tapi cobalah kamu tembus keterbatasan pencerapan inderamu itu dengan akal budi, apakah dengan adanya awan mendung dan hujan, berarti matahari tidak mengeluarkan sinarnya, dan bumi tidak beredar pada orbitnya yang menyebabkan pergeseran siang dan malam ?”

“ Ya tidak, kakang, meski kita tidak mampu menyaksikan sinar matahari, aturan alam itu tetap berjalan.Bahkan mungkin di tempat lain yang tidak tertutup awan bisa terlihat dengan terang meskipun didepan kita sinarnya tidak kelihatan.”

“Nah..disinilah dimas, adakalanya apa yang tidak mampu kita lihat atau dengar bukan berarti realita itu tidak berjalan bukan ? Dengan kata lain bila panca indera kita tidak mampu menjangkaunya, bukan berarti sesuatu itu tidak ada. Untuk itulah kadang kala akal budi kita bisa mewakilinya untuk melihat dan menyaksikan berjalannya realita itu dengan cara yang berbeda, tanpa tergantung daya tangkap panca indera yang sangat terbatas jangkauannya itu.”

“Dengan akal budi memang kita kadang bisa menyaksikan realita itu seperti berjalan, tapi semua kan masih tergantung data-data yang mampu kita dapatkan dari pancaidera maupun dari pengalaman terdahulu dengan berbagai alur logikanya. Jadi sebenarnya bukankah dengan akal budi, realita itu juga belum tentu mampu ditangkap seperti adanya, sehingga masih dalam dalam bentuk kemungkinan atau perkiraan, yang adakalanya bisa salah atau bisa benar. Jadi tidak bisa diandalkan sepenuhnya selalu benar. ”

“Tepat Dimas, itulah keterbatasan berikutnya dari akal budi manusia dalam menagkap dan memahami berjalannya sebuah realita. Sebagai contoh misal mana realita yang benar, apakah matahari yang mengelilingi bumi atau bumi yang mengelilingi matahari yang menyebabkan perjalanan matahari dari timur ke barat. Bila tidak cukup data, letak, jarak, arah gerak dan posisi keduanya, dan semua tidak diketahui dengan pasti tentu bisa menimbulkan kesimpulan yang salah bagi akal budi  dalam alur logikanya bukan ? Karena kedua hal itu bisa menjadi penjelasan yang logis.”

“Lalu bagaimana kita bisa menyaksikan realita itu dengan sesungguhnya tanpa perkiraan dengan berbagai kemungkinan yang kadang masih bisa menyebabkan salah dalam menyimpulkan dan memberi penilaian, Kakang…?”

“Maka dari itu, hendaklah Kamu bisa menjadi Matahari, menjadi Bulan, menjadi bintang , menjadi angkasa, menjadi udara,  menjadi api, menjadi air, dan menjadi bumi itu sendiri Dimas ?”

“Bagaimana dengan satu badan, dengan dua kaki, dua tangan, satu kepala dan seluruh perangkatnya ini aku bisa menjadi itu semua….bukankah itu hal yang mustahil Kakang ?”

“ Sebelum aku jawab pertanyaannmu, aku mau bertanya, Bukankah Kamu bisa menjadi, panglima Perang, Bukankah Kamu bisa menjadi Telik Sandi, bisa menjadi sahabat dan berbagai peran kehidupan lainnya. Jadi bagaimana saat ini kamu bisa memiliki badan gagah perkasa, dan akal budi secerdas ini Dimas ? Apakah itu langsung terjadi begitu saja”

“Ya tidak to kang, tentu saja hal ini tidak terjadi dengan seketika, semua melalui proses dengan tahapan-tahapan sejalan perjalanan usiaku.Dari kecil hingga dewasa aku berlatih kanuragan, olah raga dan  berbagai gladi perang untuk membentuk fisikku, dan belajar dari banyak guru lahir maupun batin, buku, maupun pengalaman untuk mencerdaskan akal budiku. “

“Baik, yang aku garis bawahi disini, bahwa untuk mendapatkan sesuatu ada prosesnya bukan ? Dan setiap proses melibatkan banyak hal baik dari dalam dirimu sendiri maupun lingkunganmu. Artinya untuk menjadi dirimu sekarang kamu harus berproses dengan merubah keadaan baik dari dalam dirimu maupun lingkunganmu dari waktu ke waktu. mengarah pada sesuatu itu. Kalau mau merubah fisik ya harus dengan upaya melalui proses yang melibatkan fisik yang mengarah pada keperkasaan ragawi.Bila mau merubah akal budi melalui upaya proses yang melibatkan akal budi dan mengarah pada kecerdasan akal budi. Jadi kesimpulannya kita bisa menjadi apa saja dengan upaya berproses merubah diri kita menjadi sesuatu itu, bukan ? Sampai disini kamu setuju ?”

“ Yah, aku setuju kakang “

“Nah sekarang pertanyaanku….untuk menjadi matahari, bulan, bintang, angkasa, bumi, air, api, dan udara,  bagaimana kamu berproses dan merubah dirimu sampai mengarah bisa menjadi itu?”

“Nah inilah yang mustahil Kakang, karena semua itu diluar diriku, jadi tidak mungkin aku bisa menjadi sesuatu  yang bukan diriku. Sebab tidak ada yang bisa aku jadikan bahan dasarnya untuk menjadi itu semua. Kalau fisik dan akal budi jelas, aku punya bahan dasarnya jadi tinggal menumbuhkembangkan saja prosesnya dari sana dengan sebuah upaya untuk menjadi apa.Dari lemah menjadi gagah, dari bodoh menjadi pandai. Lha kalau ini dari apa menjadi apa kang…apakah didalam diriku ada matahari, bulan, bintang dan sebagainya itu Kakang?”

“ Begini Dimas,  sederhananya apa yang terjadi dengan matahari, hanya matahari yang tahu. Dan apa yang sesungguhnya terjadi dengan bulan hanya bulan yang tahu.  Dengan kata lain apa yang terjadi dengan alam hanya alam yang tahu. Jadi untuk mengetahui dan menyaksikan realita alam yang sesungguhnya dan segenap hukum alam yang mengaturnya, kita harus menjadi alam itu sendiri kan.? Sebab dengan begitu kita akan tahu betul detail-detail keadaannya ketika berhadapan dengan berbagai peristiwa yang melibatkan interaksi matahari,.bumi, awan, angin, hewan, tumbuhan, dan manusia, serta seluruh makhluk di jagad raya ini. Seperti kemarau panjang, banjir, pasang surut laut, angin darat dan angina laut, dsb.Sehingga kita bisa tahu penjelasannya dan bisa mensikapi setiap peristiwa itu dengan tepat sesuai dengan irama dan hukum alam.”

“Tapi masalahnya adalah bagaimana kita bisa menjadi seperti alam ?”

“Yah menyatulah dengan alam.”

“Menyatu bagaimana maksudnya, Kang ?”

“Silahkan perhatikan Lontar ini Dimas, disini disebutkan ada dua alam, yaitu alam besar dan alam kecil. Keduanya adalah sama tapi berbeda. Bhineka Tunggal Ika. Alam besar adalah apa yang tergelar di jagad raya ini, sedang alam kecil adalah diri kita sendiri. Untuk bisa menyatu dengan alam, ada dua jalan. Yang pertama kita bisa memperlajari dan berproses bersama alam melalui jagad besar. Inilah yang kebanyakan seperti yang dilakukan oleh para petani dan nelayan. Dari pengalamannya bercocok tanam dan mengarungi samudera, dari waktu ke waktu mereka mempelajari gejala alam. Sehingga mereka tahu kapan bercocok tanam dan berlayar yang tepat. Sedang yang kedua adalah melalui jagad kecil, inilah yang dilakukan oleh para Tetua, brahmana, wiku, resi, pendhita, pertapa dan para ahli Kasuksman lainnya. Sampai disini Dimas ada pertanyaan ?”

“Untuk jalan yang pertama, mungkin aku lebih mudah memahaminya kakang. Disini para petani dan nelayan mewakili jalan yang menggunakan pancaindera dan akal budinya dengan mengamati setiap gejala alam. Dengan perjalanan waktu dari  berbagai pengalaman mengamati gejala alam itu muncul berbagai kesimpulan tentang perilaku alam. Sehingga bisa mensikapi setiap kejadian yang berkaitan dengan alam. Dan mereka melakukan itu biasanya karena berkaitan dengan mata pencahariannya sebagai petani dan nelayan yang sangat tergantung dengan kondisi dan perilaku alam. Sehingga bakat alaminya terasah sedemikian rupa karena tuntutan kehidupan keduniawiannya. Sepertinya demikian pula yang dilakukan oleh para sarjana dan para cerdik pandai di berbagai bidang yang melahirkan ilmu perbintangan, ilmu pertanahan, ilmu pengairan, ilmu pelayaran,  ilmu praniti mangsa dan sebagainya itu. Tapi untuk jalan yang kedua lewat jagad kecil ini  aku pernah dengar tapi belum begitu paham kakang. Silahkan diteruskan penjelasannya.”

“ Baiklah, seperti tadi sudah sedikit kita singgung, pada dasarnya untuk bisa menyatu dengan alam kita harus mengkaitkan diri dengan alam. Supaya kita bisa mengenal berbagai sifat dan perilaku alam dengan segenap hukum yang ada didalamnya. Nah berkaitan dengan hal ini kita bisa menggunakan jalan pertama yaitu  kita dengan panca indera dan akal budi mengarah keluar ke jagad besar. Sedang untuk jalan kedua lewat jagad kecil, ini malah berlaku sebaliknya, kita tidak membuka kaitan keluar dengan menggunakan panca indera dan akal budi. Tetapi malah kedalam. Sehingga panca Indera dan akal budi tidak difungsikan tapi diistirahatkan sementara supaya tidak ramai berkaitan dengan jagad besar yang ada diluar. Segala sesuatu yang terkait dengan jagad besar ditutup pintunya. Selanjutnya dari sana khusyuk masuk kedalam diri, menyelami diri sedemikian rupa sehingga ketika panca indera dan akal budi sudah tidak bekerja, sampailah kita pada suatu keadaan yang menghubungkan kita dengan alam semesta. Keadaan inilah yang adanya terletak di dalam hati suci kita. Yang artinya hati yang sudah tidak tersambung dengan gerak panca indera dan akal budi kearah jagad besar dengan segala kehendak dan pamrih keduniawiannya. Bila sudah sampai keadaan ini ibaratnya kita sudah ada di depan Pintu, yang muncul berikutnya yang bekerja hanya berupa Rasa. Para Tua sering menyebutkan bahwa pintu alam semesta didalam jagad kecil kita itu disebut pintu Rahsa Jati. Karena dari pintu Rahsa Jati inilah kita bisa melanjutkan perjalanan menuju asal mula seluruh realita yang sesungguhnya termasuk diri kita dan alam semesta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga dari sana akan muncul berbagai realita tanpa batas tentang segala sesuatu. Karena sesungguhnya Kita sudah masuk kedalam alam Ketuhanan, alam sumber segala sumber yang ada dari  semua realita yang tergelar di Jagad Raya. Karena ini alam dari segala realita, maka memuat berbagai informasi dan fenomena alam semesta dengan segenap hukum yang berlaku termatub juga didalamnya. Juga karena segala sesuatu yang ditangkap dan disaksikan di alam ini sesungguhnya adalah realita yang  berasal dari Tuhan sumber segala kebenaran, maka alam ini bisa dikatakan sebagai alam sejati. Atau alam kebenaran.. Demikianlah Dimas sedikit uraian tentang jalan yang dipakai para Tetua, Maharesi, Pandhita dan para bijak yang lainnya ketika hendak menyatu dengan alam dengan jalan sembahyang, meditasi, dan berbagai istilah lainnya. Mungkin kelihatannya sederhana. Sehingga jalan ini sering diungkapkan dengan istilah seperti `wong lempoh ngideri jagad` (orang lumpuh mengitari jagad). Tetapi dalam prakteknya tentu tidak sesederhana itu. Hanya dengan mengalami sendiri kita bisa  tahu persisnya segala fenomena ini. Tentu saja setiap perjalanan ada berbagai syarat dan perngorbanan untuk   bisa sampai ke tujuan. Lewat jalan ini pun juga ada berbagai halangan dan rintangan beserta lika-liku kesulitan yang sedemikan halus dan rumit untuk diterangkan. Ini juga sebuah perjalanan, hanya saja tidak banyak menggunakan gerak lahir, tapi lebih banyak menggunakan gerak batin. Sehingga ini banyak dilakukan oleh para pejalan spiritual.Tentu uraian ini hanyalah setitik debu dari bentangan luas gurun pasir dibandingkan realita yang sesungguhnya.Sehingga tidak cukup kata, dan pena untuk menuliskan seluruh realita itu, tapi jalanilah sendiri baru kamu akan mengetahui.”

 “Maaf kakang aku mencoba menyimpulkan dari sedikit pengetahuan dan pengalamanku, kalau ada kurang lebihnya mohon digenapi. Jadi menyatu dengan alam lewat jagad kecil ini pada dasarnya bisa dilakukan melalui rasa. Yang mana dengan rasa itu kita bisa menerima segala sesuatu realita tentang manusia dan alam semesta dari sumber segala sumber realita yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dan karena itu berasal dari sumber segalanya maka kebenaran realita yang diterima ini bisa dikatakan kebenaran yang semestinya. Dan rasa adalah pintu kita untuk menuju realita yang tidak terbatas. Sehingga bisa dikatakan pancaindera mampu menangkap realita yang terbatas pada wujud lahirnya, dan akal budi mampu menembus batas bentuk lahiriah dalam alur logika di angan-angan, sedang dengan rasa kita bisa memiliki kemampuan untuk menangkap realita yang tidak terbatas. Tapi sebenarnya kalau aku teliti lebih jauh dari dua jalan itu mungkin ada sedikit perbedaan Kakang. Kalau orientasi jalan luar ke jagad besar dengan menggunakan panca indera dan akal budi, mungkin tujuannya lebih banyak langsung menuju alam dan fenomena keduniawian itu sendiri. Dan didorong berjalan oleh kehendak bebas dari manusia itu sendiri sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya. Sedang realita tentang Tuhan dengan segala kehendak_Nya mungkin baru ditemukan belakangan pengertiannya. Tetapi ketika lewat jalan ke dalam  Jagad kecil, sepertinya tujuan utamanya malah bukan tentang alam, sebab sedari awal sudah tidak mengarah kepada kebutuhan keduniawian mestinya, tapi tujuan awalnya adalah Tuhan sebagai Sumber Segalanya. Sedang fenomena alam yang berikutnya diterima mungkin adalah realita yang kita dapat sebagai informasi yang kita terima, karena memang Tuhan berkenan memberikan informasi_Nya dengan disertai sebuah kehendak kebijaksanaan-Nya untuk kehidupan alam semesta itu sendiri. Jadi pada dasarnya perjalanan kedalam, sesungguhnya pada titik tertentu baru bisa kita lakukan bila kehendak kita selain kepada Tuhan sudah tidak ada, atau sudah menyerahkan sepenuhnya kehendak bebas manusia kepada kehendak Tuhan.Dengan demikian sesungguhnya kita bisa masuk ke alam sejati itu karena atas Kehendak Tuhan itu sendiri. Yang bisa diupayakan manusia hanyalah berusaha mengetuk pintunya, sedang yang berwenang penuh untuk kita bisa dibukakan pintu dan masukinya hanyalah Tuhan  sendiri. Tentu saja ini bukanlah sebuah prestasi, tapi sebuah anugerah dari-Nya.”

“Dimas, sungguh kesimpulanmu sangat mengejutkanku, ternyata kamu sudah mampu memilahkan hal yang sedemikian tipis dan lembutnya ini bahkan mampu menyusun sedemikan rupa dari tataran kasar sampai tataran halusnya dengan berbagai sikap yang mestinya dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuannya. Jadi memang begitu benar adanya Dimas. Bisa saya tambahkan disini, ketika masuk ke jagad kecil kita adalah seorang hamba, yang pasrah sepenuhnya kepada segala kehendak Majikannya yaitu Tuhan. Berikutnya bila kita sudah diperkenankan masuk dan menerima berbagai realitanya di alam sejati itu, ketika keluar sesungguhnya kita sudah mengemban suatu amanat untuk menyampaikan kehendak_Nya ke jagad besar disanalah kita sudah ditempatkan sebagai wakil_Nya. Dari sini  sesungguhnya bisa dikatakan bahwa manusia telah ditinggikan derajadnya oleh Tuhan dengan mengemban tugas sebagai wakil-Nya dimuka bumi. Sehingga apapun bentuknya tugas tersebut karena berasal dari sang Majikan Tuhan Yang Maha Tinggi maka bisa disebut bahwa amanat itu adalah tugas mulia karena dengan ditugaskan itu berarti sudah terangkat derajad manusia, dari seorang hamba-Nya menjadi  wakil-Nya.”  

“Jadi bila kita hendak memahami hukum alam dengan segala konsekwensi dan fenomenanya, sebenarnya tidak mungkin melepaskan diri dari realita Ketuhanan ini ya Kang.”

“ Ya begitulah, siapa yang lebih tahu segala sesuatu ciptaannya kecuali sang Pencipta itu sendiri. Maka sebenarnya ilmu pengetahuan alam yang didapat lewat jagad besar dengan menggunakan panca indera dan akal budi dengan beragam jalan yang ditempuhnya, sesungguhnya akan bermuara juga kepada realitas Ketuhanan ini. Meskipun mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda dengan ungkapan yang dipakai oleh para Brahmana, Pendeta, Resi, dan para Tetua lainnya. Jadi itulah Dimas mengapa disini dikatakan bahwa jagad besar dan jagad kecil itu Bhineka Tunggal Ika. Dan perlu diketahui, pesan-pesan yang diterima oleh para Tetua yang berasal dari rasa di dalam jagad kecil inipun, dalam pengejawantahannya di jagad besar juga tetap menggunakan akal budi dan panca Indera. Hanya saja mungkin bedanya Panca Indera, akal budi, dan kehendak yang sudah diserahkan sepenuhya kepada Tuhan ini, akan mendapat pencerahan, tuntunan dan perlindungan dari Sang pemilik Alam sendiri, sehingga setiap ucap, sikap, langkah dan  tindak serta semua gerak hidupnya sesuai dengan hukum alam yang berlaku sebagaimana mestinya. Maka sering kali beliau-beliau mendapat Daya Linuwih berupa  kemampuan panca indera,  akal budi dan kehendak yang lebih dari manusia  kebanyakan untuk menjalankan tugasnya. Selanjutnya wajar bila kita kemudian sering menyebutnya sebagai manusia yang luar biasa. Tetapi perlu juga diingat, sesungguhnya dibalik kelebihan itu semua, beliau-beliau ini pun juga memiliki tanggung jawab yang luar biasa besar dibanding kebanyakan manusia lainnya. Sehingga tidak bisa semena-mena menggunakan kemampuan lebihnya itu untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan tugasnya. Apalagi untuk kepentingan diri sendiri. Akan tetapi meskipun tidak memikirkan kepentingan dan kebutuhannya sendiri, karena menjalankan tugas yang harus sesuai dengan kehendak_Nya, kenyataannya segala fasilitas kehidupannya pun tentu sudah dijamin dan disediakan oleh Tuhannya. Pada dasarnya dengan melepaskan semua kehendak, kepentingan dan kebutuhan hidup kepada_Nya, sesungguhnya semua malah didapatkan tepat sesuai ukurannya bersama gerak alam semesta. Sehingga juga akan tetap memiliki kehidupan yang penuh kesejahteraan, ketentraman, kebahagiaan dan kemuliaan hidup lainnya. Sepertinya ini yang dimaksud dengan kata bijak para Tetua`Uculno Kabeh bakal entuk kabeh, Nyekel siji Ngukub kabeh` (Lepaskan semua akan mendapat semua, memegang yang Satu, menguasai semua). Demikianlah Dimas,…Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya dengan tepat dan penuh keseimbangan.”

“Kembali dengan masalah tugas telik sandiku Kakang, yang katanya ini adalah mandat dari Alam yang diterima oleh para Tetua. Bagaimana penjelasannya ? Mengapa tugas ini dikatakan sebagai sebuah upaya  para Tetua untuk mengungkapkan rahasia Kodrat alam bagi kerajaan Kita, Kakang ?”


“Begini Dimas, ketahuilah dari berbagai pengalamanku bergaul dengan para Tetua ini, meski baru sedikit aku mungkin mulai bisa memahami perilaku Beliau-Beliau yang kadang tidak mudah dimengerti oleh orang kebanyakan. Sebab pola hidup yang terbiasa jauh dari hasrat keduniawian, tentu sangat berbeda dengan kebanyakan manusia yang masih sangat erat ikatan duniawinya. Ingatlah bahwa Beliau-beliau ini ketika menyampaikan segala sesuatunya sudah melewati gulung jagad, sehingga berbagai yang tergelar adalah hasil penyelaman dari alam yang tidak terbatas. Untuk menangkap realita gerak alam semesta yang sedemikian kompleks dan maha luas tentu tidak cukup kata dan tulisan untuk mengungkapkan semua. Maka dari itu sesuatu dari alam tidak terbatas ini ketika disajikan untuk manusia yang masih terbatas, Beliau sering kali menerima dan mengungkapkan realita tersebut dalam berbagi bentuk Sasmitaning Roh yaitu simbol-simbol kehidupan yang mewakili realita yang ada. Sehingga untuk menangkap berbagai ungkapan Beliau-Beliau ini pun perlu dicerna  hati-hati, tanggap, dan penuh perhatian, supaya tidak salah pengertian.”

“Baik kakang aku paham, mengapa kali ini masalahnya menjadi sedemikian kompleks berkaitan dengan alam dan nasib kerajaan kita ?”

“Ketahuilah Dimas, alam semesta ini bergerak pada sebuah hukum. Setiap planet, bintang, bulan, air, udara, dan yang lainnya berjalan tidak dalam kehendaknya sendiri-sendiri,  tapi juga tidak ada keterpaksaan antara satu dan yang lainnya. Mereka berjalan tidak saling diperintah dan memerintah. Semua berjalan berkaitan dengan apa adanya dalam hukum sebab akibat. Sesungguhnya pada semua makhluk - termasuk manusia -terkandung didalam dirinya hukum sebab dan akibat itu. Sesuatu terjadi pasti ada sebab dan akibatnya. Inilah hukum kodrat Dimas. Dari dahulu, sekarang dan nanti itulah yang berlaku. Maka bisa dikatakan itulah hukum Ketetapan Abadi. Selanjutnya, lahirnya sebuah peristiwa adalah bila muncul keterkaitan antar makhluk itu. Dalam keterkaitan antar makhluk itu, hukum kodrat yang terkandung didalam diri masing-masing akan keluar dan menunjukkan fungsi dan perannya dalam bentuk aksi dan reaksi. Tergantung ukuran dan potensi  yang terlibat di dalamnya, akan menghasilkan banyak kemungkinan peristiwa. Air akan mengalir deras, bila berada di permukaan  tanah yang terjal. Dan air akan mengalir tenang diatas permukaan tanah yang landai. Api yang besar bisa mengeringkan air yang sedikit. Sedang Air yang banyak bisa memadamkan api yang kecil dan sebagainya. Demikianlah kita bisa berkaca dari alam dalam menjalani kodrat kehidupannya masing-masing. “

“ Kalau didalam manusia juga ada hukum kodrat, yang harus berjalan sebagai mana mestinya, lalu apa artinya kita belajar, dan berusaha kakang ? Bukankah kalau begitu berarti Kita  kehilangan kehendak bebas untuk membentuk dan mencipta peristiwa ?”

“Mungkin melihatnya tidak begitu Dimas, Tapi begini, manusia memiliki kodrat yang unik dan berbeda dengan air, tanah, udara, bulan binatang, tumbuhan, matahari dan makhluk-makhluk yang lainnya. Kita diberi akal budi dan kehendak yang mampu menangkap, memahami, dan menyadari keterkaitan berjalannya hukum alam itu. Sehingga dengan begitu kita bisa memanfaatkan berjalannya hukum alam itu dengan mempelajarinya dan berusaha memberi bentuk yang terbaik dan bermanfaat bagi kehidupan. Dari proses belajar dan berusaha itulah berikutnya manusia membuat aturannya sendiri. Dengan budi daya, manusia bisa memadukan unsur air dan api pada ukuran tertentu untuk  menghasilkan air minum yang hangat dan sehat. Disini manusia dalam membuat aturan untuk menghasilkan air minum sebenarnya hanya memberi bentuk dari hukum kodrat itu sendiri. Jadi pada kenyataannya manusia tetap tidak bisa berlepas diri dari berjalannya hukum kodrat itu. Air tetap  air, api tetap api.Dan masing-masing berjalan dalam kodratnya. Dalam upayanya, manusia perlu mempelajari sifat kodrat air dan api, baru  selanjutnya bisa  mengambil manfaat dari air dan api dengan memberi bentuk yang bermanfaat atau merusak bagi kehidupan, tergantung kehendak manusianya. Inilah yang dinamakan nasib. Manusia hanya bisa merubah bentuk air, menjadi uap, minuman, atau  es dsb, tapi tidak bisa merubah hukum realita air yang ada di dalamnya. Dengan kata lain Manusia dalam kehendak bebas dan akal budinya hanya bisa merubah nasib, tapi tidak bisa merubah kodratnya. Jadi bila pada titik tertentu ketika dalam berkehendak manusia melampaui batas dari ukuran keseimbangan alam, berarti manusia mencipta aksi ketidakseimbangan, maka alam pun bereaksi secara kodrati mengembalikan pada posisi keseimbangannya.  Jadi bisa dikatakan aturan yang dibuat oleh manusia dengan akal budi dan kehendak bebasnya adalah aturan turunan dari hukum kodrat tersebut. Sehingga mestinya sepandai apapun ilmu manusia, dan sekuat apapun kehendaknya, dalam  membuat aturan tentunya  tidak bisa bertentangan dengan hukum alam tersebut.”

“ Lalu apa kaitan itu semua dengan permasalahan komplek yang sedang terjadi di Negara kita ini, Kakang ?”

“ Begini Dimas, untuk terjadinya sebuah peristiwa sesungguhnya melibatkan keterkaitan yang sangat luas, walau pun peristiwa itu kelihatannya sangat sederhana. Sebagai misal, untuk hadirnya sepiring nasi yang kita makan, dibelakangnya banyak pihak yang terlibat, dari para abdi yang menyajikan dan mengolahnya di dapur, sampai  para penjual beras di pasar, para petani disawah, kerbau untuk membajak, udara, matahari, air, tanah, dan sebagainya. Sederhananya demikian, bisa dikatakan setiap peristiwa yang terjadi sesungguhnya melibatkan secara langsung maupun tidak langsung seluruh realita di alam raya ini. Setiap ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, setiap ada yang mengecil pasti ada yang membesar, setiap ada yang naik pasti ada yang turun, setiap ada yang hadir pasti ada yang pergi dan berbagai realitas dualisme lainnya. Mengapa demikian, karena seluruh realita yang ada ini,- apapun bentuknya- disatukan oleh sebuah fakta yang disebut hidup dan berasal dari Yag sama. Yaitu Gusti Hyang Maha Tunggal. Dan didalam hidup terdapat hukum yang mengatur satu dan lainnya dalam bentuk yang saling berkaitan menjadi sebuah bentuk kehidupan. Sehingga kehidupan selalu mengalami perubahan, karena ada awalan pasti ada akhirannya sebagai hasil interaksi pergerakan masing-masing penyusunnya. Begitulah kalau kita memandang realita dengan sebuah kesadaran akan berjalannya hukum alam, hukum hidup, atau hukum kodrat ini. Nah para Tetua yang memandang realita Kehidupan Kerajaan kita dengan menggunakan hukum alam ini, sepertinya telah menerima tanda-tanda bahwa kerajaan ini sedang menuju kejatuhannya. Akan tetapi penglihatan yang didapat dari realita jagad kecil berupa Sasmitaning Roh atau simbol ini, berikutnya membutuhkan penjabaran yang tuntas di Jagad besar. Dan untuk menjabarkan itu biasanya akan muncul kodrat hidup yang berperan penting menjadi Lajer Jalaran lakonnya (kodrat penyebab awal kejadian). Dengan munculnya lajer jalaran ini, akan membentuk keterkaitan  yang menggerakkan hukum sebab akibat yang mengarah pada perubahan bentuk kehidupan baru sesuai dengan berjalannya hukum alam.”

“Tetapi dalam banyak hal tanda-tanda alam itu sangat multi interprestasi yang bisa diarahkan kemana saja tergantung daya tafsir manusianya, lalu bagaimana hal ini bisa dijadikan pegangan bila masing-masing kemudian menafsirkan sesuai dengan kehendak dan kepentingannya?”

“Nah disinilah Dimas, sesungguhnya setiap tanda alam tidak bisa ditafsirkan oleh sembarang orang, apalagi yang masih terkait erat dengan hasrat kepentingan dan kebutuhan duniawi. Yang dari sana akal budi manusia dan kehendak bebasnya, biasanya akan cenderung memberi tafsir sesuai dengan kemampuan daya tangkap dan kepentingan pribadi atau golongannya saja. Darisini tanda-tanda itu seringkali disalahgunakan untuk alat pembodohan, dan penipuan demi mengejar kepentingan duniawinya sendiri-sendiri. Tentu saja hal ini akan bertentangan dengan hukum alam itu sendiri. Tetapi tenang saja Dimas, alam punya caranya sendiri untuk menyingkap realita yang semestinya. Dan masing-masing akan ditempatkan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. `Sopo nandur bakale ngunduh` (Siapa menamam bakal menuai). Itulah sebabnya sebagai upaya terbaiknya mengapa Para Tetua sangat berhati-hati menyajikan tanda-tanda alam ini. Biasanya hanya disajikan pada lingkup sangat terbatas dan sangat dirahasiakan tidak sembarang orang boleh mengetahuinya. ”

“Ini yang menarik kakang, lalu siapa saja yang biasanya mampu membaca tanda ini dengan tepat ?”

“Seperti sudah aku kemukakan di depan Dimas, karena tanda ini berasal dari alam, maka hanya yang sudah bisa menyatu dengan alamlah yang bisa membacanya dengan tepat. Baik lewat jalan keluar melalui jagad besar, maupun  ke dalam lewat jagad kecil. Tetapi keduanya sepertinya punya persyaratan yang sama baik bagi para cerdik cendikia, maupun para Maharesi, Pandhita, maupun para Tetua. Yaitu Beliau-beliau mestinya bisa melepaskan diri dari segala kepentingan pribadi dan hasrat keduniawiannya, sehingga bisa melihat dan membaca realita ini dengan jernih sebagaimana mestinya seperti kehendak alam. Setiap tanda sepertinya tidak berdiri sendiri, dari waktu-ke waktu biasanya muncul berbagai fenomena dan tanda-tanda lanjutan yang semakin memperjelas segala sesuatunya.Dan ini biasanya muncul setelah terlahirnya Kodrat Lajer Jalaran. ”

“Tadi dikatakan untuk penjabaran tanda-tanda tersebut, biasanya akan muncul Lajer jalaran berupa kodrat yang menjadi pembuka awal munculnya gerak hukum sebab akibat menjadi bentuk kehidupan baru. Dalam bentuk apa biasanya kodrat Lajer Jalaran itu kang ?”

“Dari sebuah rangkaian keterkaitan kodrat-kodrat penyusun suatu bentuk kehidupan, terdapat kodrat yang sangat menentukan arah gerak dan perubahan dari proses berjalannya rangkian tata kehidupan tersebut. Ini bisa dalam bentuk paraga, papan, wanci lan kahanan.  Termasuk paraga disini bisa berbentuk manusia, hewan, tumbuhan, bintang, matahari, dan lain-lainnya sebagai pelaku atau obyek peristiwa. Sedang papan adalah  tempat, wanci adalah waktu, sedang kahanan adalah keadaan. Mungkin contoh sederhananya begini Dimas. Karena hari Hujan, ada sepasang muda-mudi terpaksa berteduh bersama disebuah tempat berbentuk gubuk. Selanjutnya dari sana muncul rangkaian kejadiannya. Dari yang belum saling kenal, sampai mereka terjalin hubungan yang makin akrab dan akhirnya membentuk rumah tangga. Maka pada hari itu hujan menjadi Kodrat Lajer Jalaran berbentuk keadaan yang mempertemukan kedua insan itu merangkai kehidupan bersama. Hari-hari sebelumnya mungkin sudah sering terjadi hujan, tapi hukum keterkaitan dengan manusia, tempat, dan waktunya belum tersusun sempurna. Sehingga hari-hari hujan sebelumnya itu tidak bisa disebut kodrat Lajer jalaran. Dan mereka bertemu bukan karena mau ke Gubuk itu, jadi tempat juga bukan kodrat Lajer Jalaran. Begitu Dimas.Dan kedua insan itu berteduh digubuk bukan untuk bertemu dengan sengaja, jadi manusia juga bukan kodrat Lajer jalaran dalam peristiwa ini.”

“ Jadi lajer jalaran ini sesungguhnya bisa berbentuk apa saja yang kadang diluar perkiraan kita tentang sebuah keterkaitan kehidupan ya Kakang..?”

“ Bisa dikatakan begitu Dimas, sehingga karena itu diluar daya jangkau alur pemikiran kita sering hal ini disebut sebagai kebetulan. Jadi sesungguhnya yang menempatkan dan menentukan Lajer Jalaran ini pada sebuah momentum kehidupan adalah alam semesta itu sendiri. Para Tetua yang sudah terbiasa dengan bahasa alam sering kali mampu membaca sebuah realita dari suatu peristiwa yang menjadi Lajer Jalaran ini. Yang selanjutnya dari sana bisa ditarik ke masa lalu ataupun  masa depan yang akan melahirkan sebuah rantaman urip atau Jongkoning Urip. Dan orang awam biasanya menjadikan Rantaman ini sebagai ramalan masa depan. Begitulah kira-kira yang menjadikan Beliau-beliau disebut para waskita kang ngerti sadurunge winarah atau manusia yang tahu sebelum kejadian.”


“Tapi apakah dari Jongko urip segalanya sudah pasti akan berjalan kesana Kang ?”

“Disinilah kebijaksanaan para Tetua mensikapi perjalanan kehidupan ini Dimas. Maka disebutnya hal itu dengan Jongko atau lengkapnya disebut Panjongko. Artinya apa yang disebutkan dalam panjongko itu adalah sebuah harapan pasti. Dikatakan pasti karena berasal dari sebuah realita yang pasti terjadi, sebab berasal dari suatu perhitungan alam yang selalu pasti dengan hukum sebab akibatnya. Dikatakan harapan karena semuanya belum terjadi, tetapi baru akan terjadi. Dan  yang perlu digaris bawahi, bahwa kepastian disini adalah hukumnya, sedang bentuk aktualisasi dari hukum itu sangat tergantung bagimana manusia mensikapinya sehingga Jongko ini sesungguhnya adalah sebuah harapan bijak mensikapi realita.”

“Kepastian tapi masih tergantung manusia mensikapinya itu bagaimana maksudnya Kang ?”

“Begini Dimas, bila kamu pinjam kamu harus mengembalikan. Maka apa yang terjadi dimasa depan bisa diibaratkan adalah tagihan akumulasi dari pinjaman kita dari masa lalu dan sekarang yang harus dikembalikan. Nah..yang pasti adalah hukum pinjam dan tagihan itu Dimas. Hanya saja manusia berbeda-beda mensikapi realita ini. Ada yang tidak peduli sehingga merasa tidak pernah meminjam, ada yang peduli sehingga dengan ikhlas mempersiapkan segala sesuatunya untuk dikembalikan pada masa jatuh temponya. Atau bahkan bila ada yang lebih rajin, belum jatuh tempo saja sudah mencicil berusaha mengurangi beban pinjamannya. Sehingga bila sudah titi wancine jatuh tempo penagihan, nasib masing-masing yang mengalami tentu akan berbeda-beda. Ada yang diambil dengan paksa, ada yang dipercaya kembali meminjam, bahkan ada yang diberi pinjaman yang lebih besar karena bisa mengelolanya dengan baik selama meminjam.Bukankah hidup selalu berputar ?”

“Oo…jadi itu yang dimaksud bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita ini pada hakekatnya adalah pinjaman dari alam semesta dengan beragam proses dan bentuknya.”

“Ya begitulah Dimas, bukankah kita terlahir tidak punya apa-apa dan nanti meninggal juga tidak akan membawa apa-apa ? Kalau merasa punya mungkin itu hanya anggapannya saja…hehe…”

“He..he.., memang banyak manusia hidup dengan anggap- anggapan saja,  Kang.Maka tidak salah bila para Tetua mengatakan kalau kehidupan di dunia ini hanya fatamorgana saja. Lalu bagaimana dengan kehidupan suatu bangsa dan negara Kang ?”

“Sama dengan kehidupan manusia, hanya saja ini berkait dengan kehidupan manusia secara kolektif, yang pada dasarnya terjadi berbagai akumulasi keadaan disana. Sehingga nasib suatu bangsa dan negara ditentukan oleh sikap dan perilaku kolektif dari manusia-manusia yang hidup terkait didalamnya. Masing-masing ikut memberi kontribusi sesuai peran, kedudukan, tugas, tanggung jawab dari seluruh realita kodratnya. Sehingga tangis satu petani yang bodoh, miskin di pelosok desa yang sangat terbelakang pun ikut memengaruhi berjalannya hukum alam bagi bangsa tersebut. Semua saling berkaitan, seorang raja tidak bisa disebut raja tanpa adanya para kawula. Dan para kawula tidak bisa disebut kawula tanpa ada yang menjadi pimpinannya.”

“Jadi dari keterangan para Tetua, Kerajaan ini sudah sampai masanya menuju kejatuhannya ya Kang ?”

“Demikianlah Dimas yang aku terima, untuk itu aku harus memberimu dasar-dasar pengertian yang tepat, supaya kamu mampu mensikapi keadaan ini dengan bijak.”

“Lalu apa kaitannya dengan tugasku dan peristiwa yang terjadi antara diriku dengan sang Putri yang disana, kakang ? Mengapa hal ini menjadi sebuah tanda bagi keadaan itu ?”

“Begini Dimas, tadi sudah aku katakan bahwa dirimu hanyalah salah satu bagian yang terkait dari semua kodrat kehidupan yang menyusun Bangsa dan Negara kita ini. Dan para Tetua dengan Kebijaksanaannya sudah menerima tanda-tanda tersebut, yang tentu saja tidak bisa dibuka kepada sembarang orang termasuk Sri Baginda sendiri.Dari peristiwa yang kamu alami, para Tetua hendak menyingkap realita yang multikompleks dan multidimensional ini kepada jagad besar dengan pendekatan yang sangat bijak. Supaya tidak merusak pranata social yang sudah terbangun rapi di Kerajaan ini. Jadi kalaulah harus jatuh, tapi tetap menyisakan peradaban yang bisa diingat oleh jaman dan anak cucu kita kelak sebagai karya Agung yang patut dicontoh. Disini kamu perlu mengetahui hal ini karena sangat terkait erat dengan kodrat darma hidupmu selama ini. Benar apa yang dikatakan Dindamu yang ada disana. Didalam dirimu sudah bersemayang Lingga Buana yang membawa kodrat kuasa alam untuk membentuk tata kehidupan berupa Kejayaan dan  Kebesaran sebuah Kerajaan. Cobalah kamu ingat-ingat sendiri perjalananmu. Sejak dirimu melamar sebagai prajurit sampai sekarang menjadi seorang Pembesar kerajaan yang dipercaya penuh oleh Baginda. Berbagai kesulitan yang menghadangmu seolah sebagai anak tangga dari waktu ke waktu yang membawa bukan hanya dirimu tapi juga kerajaan ini mengalami puncak kejayaan dan Kemakmuran. Banyak bangsawan yang naik jabatannya dari rendahan sampai menjadi atasan. Tapi jalan yang ditempuh dan tantangan kehidupan yang dialaminya tidak serta merta terkait dengan Nasib kebesaran Kerajaan itu sendiri. Artinya perjalanan hidupnya tidak mewakili realita kodrat dari kerajaannya. Berbeda dengan dirimu. Perjalanan hidupmu mewakili realita kodrati dari kerajaanmu. Jadi meskipun sudah berbagnti-ganti raja, selama dirimu masih menjadi bagian dalam menggerakkan roda kehidupan kerajaan ini, maka kehidupan kerajaan ini akan terus bergerak dan menanjak sampai puncak kejayaannya. Dan realita kodratmu yang membawa Kodrat Lingga Buana ini sudah disadari sepenuhnya oleh para Tetua. Sehingga sejak dari kecil baik sacara langsung maupun tersamar, sampai saat ini perjalanan hidupmu dibawah pemantauan dan pembinaan dari para Tetua. Mungkin kamu sendiri tidak meyadari sepenuhnya realita ini. Tetapi begitulah Dimas realita unik yang muncul dari kehidupan para Tetua.”

“Tetapi Kakang, sebagai manusia tentu aku mengharapkan bagi bangsa dan Negara ini yang terbaik. Sehingga selama aku masih hidup, aku sumbang sihkan seluruh yang aku miliki untuk menjaga dan memelihara Kejayaannya selama mungkin. Bukankah itu hal yang wajar ?”

“Benar Dimas, itulah cara berfikir manusia. Memang begitu mestinya, itu wajar saja. Tapi tidak begitu dengan alam semesta. Dalam hukum alam segala sesuatu berjalan secara tepat pada rangkaian keterkaitan dan ukuran dengan keseimbangan ruang dan waktunya. Perlu diingat Dimas, segenap perjuanganmu menjalani darma bakti bagi kerajaanmu ini, sudah meminjam banyak sumber daya alam untuk mewujudkan sebuah kejayaan dan kebesaran kerajaan. Dan ingat bahwa kehidupan sebuah kerajaan ditentukan oleh ukuran kodrati seluruh sumber daya yang ada didalam kerajaan ini, baik berupa manusia, hewan, tumbuhan, air, api, udara dan sebagainya. Dan masing-masing punya keterbatasan dalam mengisi rangkaian gerak kehidupan didalamnya. Jadi tidak mungkin selamanya bisa dipertahankan bentuk kejayaan dan kebesaran kerajaanmu ini. Pada saatnya pasti sampai puncak kemampuannya. Yang dari puncak tersebut, berikutnya pasti akan menurun sedemikian rupa sebagai hukum alam pasti menagih semua pinjaman yang sudah diberikannya pada Kerajaan ini. ”

“Lalu apa hubungannya ini dengan keadaan Dindaku Kang ?”

“Ketahuilah Dimas, Apa yang ada didalam diri Dindamu itulah sesungguhnya selama ini yang mengimbangi gerak  kehidupanmu. Lingga Buana baru bisa mewujudkan karyanya bila mampu berpadu dengan Yoni alam Bokor Kencana. Sebab Lingga ini adalah symbol bibit kehidupan dari laki-laki dan Yoni Bokor Kencana adalah symbol bibit dan kancah kehidupan dari perempuan. Disebut Bokor Kencana artinya wadah kejayaan. Seperti proses melahirkan, untuk bisa melahirkan seorang jabang bayi dibutuhkan pertemuan kedua bibit ini. Dan setelah itu dikandung didalam wadah kehidupan seorang ibu. Jadi bisa dikatakan realita kehidupan dindamu inilah kancah perpaduan atau wadah kandungan untuk mematangkan daya alam yang menopang kelahiran karya-karyamu selama ini. ”

“Tapi kalau perjalanan hidupku adalah mewakili nasib negaraku, oleh karena adanya Lingga Buana ini ada didalam diriku, sehingga perjalananku mampu mewujudkan kejayaan kerajaan ini, tapi mengapa aku baru bertemu dengan Dindaku ketika aku sudah mencapai kejayaan ini. Mengapa bukan sebelumnya ? Bukankah Lingga Buana baru bisa bekerja bila bisa berpadu dengan Yoni alam Bokor Kencana ?”

“Begini Dimas, ingatlah Lingga Buana dan Bokor Kencana ini adalah kodrat kuasa alam untuk kehidupan Bangsa dan Negara. Yang perpaduannya bisa melahirkan karya untuk mewujudkan sebuah kehidupan Negara. Meskipun kamu belum bertemu secara fisik dengan dindamu, tapi Bokor Kencana tetap bekerja, hanya saja tidak lewat manusia. Dengan jenjang usiamu yang terpaut cukup jauh dengan Dindamu ini, tentu saja ketika awal perjuanganmu bagi bakti kepada Negara ini,bisa jadi malah dia belum lahir. Tetapi meski  begitu bukan berarti Yoni ini tidak bekerja. Yoni ini adalah Yoni Alam semesta, maka ketika belum masuk ke Ponang Jabang Bayi, Yoni ini masih ada didalam kandungan alam semesta. Sehingga ketika Lingga Buana sudah manjing didalam dirimu, kamu berjodoh dengan alam semesta yang mengandung Yoni Buanamu itu. Atau dengan kata lain selama ini Kamu berjodoh dengan Ibu Pertiwi dan Ibu Samudera. Sehingga kerajaan ini selalu berjaya dan mampu menguasai daratan dan lautan. Pada kondisi ini bisa dikatakan kamu mewakili kuasa alam sebagai Bapa Angkasa. Pertemuan Ibu dan Bapa inilah yang melahirkan putra alam berupa karya semesta tata negara. Mungkin inilah yang bisa menjawab mengapa selama ini kamu tidak pernah tertarik kepada perempuan mana pun sebelum kamu bertemu dengan Dindamu itu.”

“Lalu kalau memang bisa begitu, mengapa kali ini Yoni Bokor Kencana itu manjing ke dalam raga Dindaku disana, Kangmas ?”

“ Nah…inilah Dimas, semenjak Bokor Kencana manjing ke dalam Raga Dindamu itu, hal ini telah mampu dibaca oleh para Tetua, sebagai tanda bahwa tagihan alam kepada Bangsa dan Negara kita sudah datang. Untuk itu alam telah memilih kalian berdua sebagai Lajer Jalaran lakon dalam bentuk paraga. Sekaligus ini penjabaran dari kenyataan memang dirimulah sesungguhnya yang membawa Lingga Buana di kerajaan kita ini, dimana sang Putri secara alami menjatuhkan pilihan hatinya kepadamu. Ini menandakan perjodohan alam itu yang memungkinkan kalian bisa merasakan romantika harmoni sedemikian rupa dalam keadaan yang tidak berbatas ruang dan waktu. Tanpa adanya kodrat alam yang manjing dalam diri kalian tentu tidak secepat dan segampang itu kamu mendapatkan hatinya, demikian pula sebaliknya. Dari sini sebagaimana alam berbicara lewat kamu dengan menggelar karya-karya tata Negara, maka alam juga berbicara lewat dia dengan menagih segala yang telah dipinjamkannya. Oleh karena Kamu yang menjadi perantara kejayaan kerajaan kita, maka lewat kamu pulalah tagihan ini akan dialamatkan. Jadi keterkaitan kalian berdua inilah yang melahirkan paradog dan antiklimas keadaan menuju perputaran roda kehidupan ke arah sebaliknya dari kejayaan menjadi kejatuhan ini, Dimas.”

Terserap kedalam kebisuan diri, Sang Ksatria menyaksikan pergelaran jagad kembar yang terbentang direlung kalbunya. Apa yang saat ini tengah terjadi didalam dirinya, demikian pula yang akan terwujud bagi kerajaannya. Arus kehidupan telah menempatkan dirinya pada sebuah dilema nyata, antara cinta sejati pada sang Sekar Kedathon pujaannya, terbentur dinding tebal tembok perkasa Sumpah prasetyanya pada negara. Terasa kuasa kodrati tengah menghentikan aliran kehidupan yang selama ini dengan segala duka cita yang dilaluinya selalu merangkak naik menuju kejayaan Negara. Sudah saatnya menjalani dan menerima kenyataan menuju arah penurunan sebagai realita alam dalam menggerakkan roda kehidupan sebagaimana mestinya.

Sirno ilang kertaning bumi,
sabarang gawe salah,
sabarang polah kalah,
sabarang tandang ora ana sing kebeneran.
Becik gulung jagad marepeg mring Hyang Agung,
nampa legawa pepesthene kodrat,
kanggo sangu tembe panitisane.

Alunan rangkaian nada dari  suara lembut seorang wanita, terdengar merdu menyelinap di telinga. Tembang Maskumambang mengalun lembut membalut kalbu. Pesona gaib terpancar lewat nada swara sapta pangrunggu, perlahan-lahan mampu menarik kesadaran sang ksatria keluar dari Kaca Brenggala. Terlihat asap putih lamat-lamat mulai menutup pendar cahaya Kaca Brenggala. Sirnalah dari pandangan mata gambar kehidupan dari jaman dahulu kala. Sejalan berhentinya tembang, tampaklah kembali sang Ibu dengan pandangan menorehkan kehangatan bagi hati yang sedang dingin membeku. Ditatapnya penuh sayu sosok sang Ibu yang sudah berkenan membuka tabir niskala dari  kehidupan dahulu kala. Segurat senyum melintas lembut di bibir sang Ibu demi menyaksikan kerontokan hati sang Ksatria menerima makna dari cerita lama.

“Duh…Ibu, mengapa sedemikian dalam saya merasakan semua hal yang terungkapkan dalam cerita masa lalu itu ? Sampai saya ikut merasakan seolah-olah hal itu benar terjadi pada diri saya.Mohon maaf atas kelemahan hati saya ini Ibu”

“Ketahuilah anakku, sang waktu telah mencatat semua gerak kehidupan di jagad raya ini. Dari jaman-ke jaman semuanya tersimpan rapi didalam memori alam semesta. Setiap hal yang datang dan pergi dalam kehidupan ini, adalah sebuah rangkaian panjang peristiwa yang saling berkaitan. Tidak ada satu pun kejadian yang terjadi berdiri sendiri dengan tiba-tiba. Semua ada sebab-sebab yang mendasarinya. Akan tetapi daya ingat manusia di alam sadarnya sungguh sangat sempit dan terbatas. Banyak hal mudah dilupakan, banyak hal seperti hilang atau sengaja dihilangkan dalam ingatan manusia. Sehingga bila terjadi suatu peristiwa yang diluar kemampuan akal budi mengingatnya, manusia mudah terkejut, mudah kagum, dan mudah takut, yang selanjutnya akan melahirkan sikap yang berlebihan dan tidak realistis sebagamana mestinya. Maka bersyukurlah anakku…dengan  bisa merasakannya sendiri itu bukan sebuah kelemahan hati tetapi itu malah suatu kepekaan rasa yang sudah mulai tumbuh dalam dirimu. Sehingga bukan hanya akal budimu yang mengingatnya tapi seluruh bagian dari dirimu bahkan termasuk seluruh sel-sel yang menyusun ragamu ikut mengingatnya. Dengan demikian peristiwa itu akan sangat membekas didalam dirimu. “

“Mohon maaf Bunda, meski ananda belum sepenuhnya menangkap seluruh rangkaian cerita dari kisah ini, mengapa didalam rasa ananda seperti sudah terpampang peristiwa yang sedemikian tragis dan menyedihkan yang terjadi diantara kedua Insan Lajer Jalaran ini pada akhirnya, sehingga terasa sedemikian menyesakkan dada ?”

“Ngger…apa yang kamu rasakan itu  baru ujung dari proses pencerapanmu terhadap realita dengan menggunakan rasa, lanjutkanlah. Sesungguhnya dari setiap  rangkaian peristiwa yang terjadi, meski hanya sepenggal kisah, tetapi bila kamu mampu menyelami sampai kepada inti sarinya, akan kamu dapatkan purwa, madya lan wasanane. Jalmo limpad seprapat wus tamat. Sebab semua berasal dari Sang Hyang Maha Tunggal. Bila keadaan itu sudah demikian meresap dalam dirimu, realita yang kamu tangkap sebagai sesuatu yang tragis dan menyesakkan dadamu itu akan hilang dengan sendirinya, karena kamu akan  menemukan perimbangannya bila sudah bisa menangkap realita itu  seutuhnya.”
“Apakah yang dimaksud dengan perimbangan yang bisa menghilangkan dengan sendirinya disini Ibu ?”

 “Kodrat kehidupan manusia terkait dengan waktu dalam bentuk Purwa, Madya, lan Wasana ( Awal, Tengah, dan Akhir). Pada tahap Purwa, manusia membawa Kodrat  Jalaran Urip yang bisa menjadi Lajernya lakon kehidupan. dimana dengan kodrat ini manusia bisa menjadi penyebab awal terjadinya suatu rangkaian peristiwa dalam kehidupan berkaitan dengan seluruh mahluk di jagad raya. Selanjutnya pada Tahap Madya, manusia membawa suatu Kodrat Sandangan Urip yang menempatkan dirinya pada sebuah perimbangan dalam seluruh keterkaitan dengan kehidupan dalam berbagai bentuknya. Perimbangan disini artinya manusia berada pada titik tengah kehidupan sebagai Punjer (pusat tata kehidupan). Yang dari sana terlihat jelas segala ukuran kehidupan. Dalam titik tengah inilah manusia bisa mengukur segala sesuatunya dalam keterkaitannya bersama seluruh makhluk dan alam semesta. Bukankah dengan adanya titik tengah akan terlihat jelas apa yang di kiri dan kanan, apa yang di depan dan belakang, apa yang di atas dan dibawah, dan seluruh sisi kehidupan yang saling berbalikan ?”

“Lalu apa kaitannya tahap Madya dengan titik perimbangan ini dalam menghilangkan realita yang tragis dan menyedihkan Ibu ?”

“Kalau kamu menangkap bahwa akhir dari suatu peristiwa itu tragis dan menyedihkan, itu karena kamu hanya menangkap cerita akhirnya saja. Sehingga bagi jiwamu yang ada hanya sedih saja. Bila kamu bisa menempatkan dirimu pada kesadaran Punjer yang ada ditengah realita, Kamu bisa menangkap selain akhir juga bisa menangkap realita dari awal cerita. Sebab bila kita sudah ada di tengah baru bisa ditentukan manakah yang dimaksud dengan awal cerita dan manakah yang disebut dengan akhir cerita. Selain sedih tentu juga akan ditangkap  senangnya. Dari sana akan tertangkap realita itu lebih utuh. Biasanya bila ada sedih diakhir, karena sudah ada senang diawal, bila ada kejatuhan diakhir, karena sudah ada kejayaan di awalnya. Begitu pula sebaliknya.”

“Jadi kesan dan perasaan yang mempengaruhi saya ini, Apakah mau senang atau sedih, tinggi atau rendah, di depan atau dibelakang tergantung bagaimana saya menempatkan diri pada sebuah rangkain cerita kehidupan. Apakah benar begitu ibu ?”

“Ya bisa dibilang begitu, akan tetapi dihadapkan dengan berjalannya waktu, mau tidak mau Kamu harus merasakan semuanya itu, baik - buruk, senang - sedih, menang – kalah, benar – salah, tinggi - rendah dan seterusnya. Makanya yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana menghadapi realita itu, Pada kenyataannya manusia harus mengalami itu semua. Tidak ada cerita kehidupan yang berisi hanya senang saja Begitu pula sebaliknya, tidak ada cerita kehidupan yang hanya berisi sedih saja. Pasti ada saat-saat sedih, ada saat-saat senang., semua itu hanyalah sementara. Namanya sandangan, seperti hal nya pakaian bisa dipakai dan dilepas kapan saja. Bila manusia bisa menyadari dan mau menerima realita bahwa hidup membawa  kodrat Sandangan ini,maka semua peristiwa dalam kehidupannya bisa diterima seutuhnya. Dan akan merasakan dalam kehidupannya segalanya berjalan, tumbuh dan berkembang secara adil dan seimbang.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar